|
28 November 2007
Kesederhanaan
Dalam Kebersamaan
Fieldtrip CCCC
2007 Mligi (Bagian 2)
Banyak
kasak-kusuk yang sering terdengar dari seluruh panitia CCCC
(Children Conference on Climate Change) 2007. ”Jam piro
rombongane tekan Claket. Saiki wis tutuk ngendi? (Jam
berapa rombongan peserta datang. Sekarang sudah sampai
dimana?)” adalah kasak-kusuk yang sering terdengar diantara
panitia CCCC Fieldtrip Hutan dan Sumber Air di Desa
Claket.
Beberapa menit
kemudian, kesibukan persiapan kegiatan yang dipusatkan di
SDN Claket I dan Dusun Mligi ini dipecahkan dengan raungan
sirene mobil patroli dan pengawalan (Patwal) Polwiltabes
Surabaya. Kontan saja membuat seluruh panitia berhamburan
untuk mempersiapkan kegiatan, terutama petugas keamanan yang
sibuk mempersiapkan lokasi parkir kendaraan.
Antusias masyarakat
semakin tumpah ke jalan, sewaktu rombongan peserta mulai
turun dari bus dan berjalan menuju SDN Claket I. Delegasi
CCCC dari Rusia, Australia, Malaysia dan Papua ternyata
menarik perhatian masyarakat. Mungkin bisa dimaklumi, belum
pernah ada kegiatan serupa di Desa Claket. ”Wah bulene
dwuwur tenan yo (wah, orang dari luar negeri tinggi
sekali badannya),” gumam beberapa warga saat menyaksikan
beberapa delegasi berjalan memasuki lokasi pembukaan.
Memasuki
halaman SDN Claket I, rombongan CCCC disambut barisan
anak-anak dengan lambaian tangan dan nyanyian lagu Selamat
Datang. Suasana pun terlihat akrab dan bersahabat dengan
berjabat tangan, meski sapaan ”Selamat Datang di SDN Claket
I” atau ”how are you today!!” tidak bisa saling dipahami.
Kegiatan dibuka oleh Hedy, asisten Deputi Pengendalian
Kerusakan Hutan.
Dalam sambutannya
Hedy menyampaikan pesan tentang pentingnya pendidikan
lingkungan berbasis pelestarian hutan untuk anak-anak,
terutama usia sekolah dasar. Sambutan unik disampaikan oleh
Kepala Dinas Pendidikan Kab. Mojokerto Achmad Djazuli. Dalam
sambutan yang disampaikan dengan berpantun ria, pria yang
dikenal humoris itu mengajak anak-anak untuk mulai melakukan
tindakan penyelamatan hutan. ”Caranya dengan melakukan
pembibitan dan penanaman pohon,” kata Achmad Jazuli.
Tidak
ketinggalan juga penampilan kesenian setempat Bantengan,
yang dibawakan siswa kelas V SDN Claket I mampu memberikan
hiburan bagi seluruh peserta CCCC. Sesi presentasi inovasi
lingkungan disampaiakan bergantian oleh beberapa delegasi.
Diantaranya delegasi Russia. Dengan menggunakan musik rapp
(nge-rapp), delegasi Rusia mengajak untuk lebih peduli pada
kelestarian hutan. Penampilan presentasi delegasi Rusia
tentu saja menarik perhatian semua yang ada.
Selesai ber
presentasi, tepuk tangan panjang pun terdengar dari semua
didepan panggung, hal yang menandakan terima kasih atas
penampilannya, atau malah kebingungan, berusaha mencerna
makna lagu rapp yang dinyanyikan dalam bahasa Russia.
Acara
dilanjutkan dengan penanaman pohon persahabatan. Pada
penanaman ini seluruh delegasi menuju halaman samping SDN
Claket I. Seluruh peserta dan panitia saling membantu untuk
melakukan penanaman pohon, mengingat lahan yang ditanami
mempunyai kemiringan tinggi. Penanaman perdana dilakukan
oleh Hedy dari kementrian lingkungan hidup, Djazuli dari
Diknas Mojokerto, Eka dari Perhutani KPH Pasuruan, serta
Elly dari Millenium Kids Australia.
Hal unik pun terjadi
disini. Pada saat menanam, Elly kebingungan menggunakan
cangkul. Dengan sigap ketiga bapak-bapak yang ada di
sebelahnya berusaha membantu secara bersamaan. Mungkin bisa
dimaklumi, di negara asalnya, Australia, cangkul sudah tidak
digunakan atau memang cangkul tidak ada di Australia.
Selesai
penanaman pohon persahabatan, seluruh delegasi berjalan kaki
menuju Dusun Mligi yang berjarak 400 meter dari lokasi.
Jarak yang ditempuh sebenarnya dekat. Tapi begitu menguras
tenaga karena jalan yang mendaki. Setibanya di Dusun Mligi,
seluruh peserta segera menuju rumah-rumah penduduk dengan
dipandu panitia. Makan siang pun dilakukan bersama penduduk
dengan menu sehari-hari penduduk Dusun Mligi.
Selesai makan siang
kegiatan dilanjutkan dengan Fieldtrip. Di halaman
Masjid Dusun Mligi seluruh delegasi telah bersiap dalam
empat kelompok besar. Dipandu oleh siswa-siswi SMAN I Pacet,
setiap kelompok menuju lokasi yang berbeda. Kelompok I
menuju lokasi pembibitan tanaman lindung. Di lokasi ini
peserta belajar tentang prosen persemaian, perawatan bibit
tanaman produksi.
Kelompok
II menuju ke sumber air alami Air Terjun Grenjengan. Di
lokasi ini peserta diajak untuk melihat sumber air artesis
yang keluar dari sela-sela bebatuan. Kelompok ini juga
menerima penjelasan tentang hutan yang berfungsi sebagai
daerah resapan air. Selain itu peserta juga diajak untuk
meminum langsung air tersebut. Berbeda dengan kelompok
lainnya, kelompok II mengunjungi peternakan sapi perah,
yang menjadi mata pencaharian penduduk Dusun. Selain itu
juga peserta mencoba proses pemerahan susu sapi. Kelompok II
juga mengenal fungsi peternakan yang dapat meningkatkan
hasil pertanian melalui penggunaan kotoran sapi perah
sebagai pupuk tanaman.
Di kelompok
terakhir, peserta mengunjungi areal pertanian organik, yaitu
kebun wortel. Dijelaskan juga pada peserta bahwa areal
pertanian di Dusun Mligi merupakan areal pertanian organik.
Di pertanian ini untuk penyubur tanaman digunakan pupuk
kandang yang berasal dari peternakan sapi perah.
Keceriaan
peserta bertambah peserta semakin bertambah, ketika peserta
diajak untuk memanen wortel untuk dibawa pulang. Pemandangan
langka pun segera terlihat. Anak-anak nampak bersuka ria di
lahan pertanian, berusaha mendapatkan wortel sebanyak
mungkin.
Kegiatan
fieldtrip Hutan dan Sumber Air telah terlaksana.
Diantara semua pendukung, pelaksana, dan peserta kegiatan,
telah belajar untuk saling mengerti dan memahami lingkungan
hidup meski perbedaan asal, adat dan kebudayaan
melatarbelakangi. Telah dikunjungi culture pedesaan.
Telah ditanam pohon persahabatan antar daerah dan negara.
Telah diketahui cara pembiakan bibit pohon pelindung. Telah
diminum air segar belum tercemar dan susu asli penuh dengan
nutrisi. Telah dibawa pulang wortel penuh gizi tanpa
pestisida dan pupuk kimia yang meracuni.
Semoga kita semua bisa belajar memahami dan bertindak arif
terhadap lingkungan, bukan hanya untuk kehidupan generasi
sekarang dan saat ini, tetapi juga untuk masa depan generasi
nanti. (geng) |