Menjelang berakhirnya masa ujian akhir sekolah menjadi momen yang tepat bagi sekolah untuk memberikan pembekalan materi dan ketrampilan terapan kepada kader lingkungan hidup. Seperti yang dilakukan oeh Agustina Susi Utami, kepala SMPN 18 Surabaya mengajak Tunas Hijau untuk memberikan materi pengolahan sampah khususnya kertas kepada siswa-siswanya. Bersama dengan mobil edukasi lingkungan hidup keliling atau kerap disebut Eco Mobile PJB, Tunas Hijau mengajak puluhan kader lingkungan untuk mendaur ulang kertas bekas yang sudah dikumpulkan, Jumat (04/05).

Disampaikan oleh Agustina, alasannya memilih materi pengolahan sampah kertas dikarenakan melihat potensi di sekolah barunya ini yang terbanyak dihasilkana adalah sampah kertas, baru setelah itu sampah plastik. “Daripada setiap hari kami semakin menambah volume sampah yang akan disetorkan ke TPA Benowo, ya saya ingin anak-anak ini bisa belajar mengolah sampah kertas hingga tujuannya adalah pengurangan volume sampah kertas di sekolah,” ujar mantan kepala SMPN 50 Surabaya.

Niatan kepala sekolah yang per September menahkodai sekolah di Jalan Bambang Sutoro, Komplek Kenjeran Bulak ini direspon baik oleh kader lingkungan dengan nama lain Wolulasijo ini. Dengan rasa keingin tahuan yang tinggi, langkah demi langkah kerja proses pengolahan sampah kertas yang disampaikan oleh Bram Azzaino, aktivis senior Tunas Hijau dicatat di buku tulis. “Pada saat mengolah sampah kertas, yang diperhatiakan adalah saat membuat bubur kertas dan proses mencetak bubur kertas di alas mika sebagai media cetaknya,” terang Bram.

Bersama dengan Eco Mobie PJB, pembinaan mengenai pengolahan sampah kertas di sekolah, Jumat (04/05) ini menyampaikan pentingnya menghemat kertas karena setiap satu rim kertas dibuat dari satu batang pohon berusia 5 tahun.

Aktivis lulusan Teknik Lingkungan ITS ini menjelaskan pentingnya melakukan pengolahan kertas adalah untuk mereduksi atau mengurangi praktek penebangan pohon untuk dijadikan kertas baru. Faktanya, satu rim kertas dihasilkan dari satu batang pohon berusia 5 tahun. “Kalau kita mau mengolah kertas, setelah diolah lalu kertas hasil daur ulangnya bisa dibuat apa ya kak?” tanya Amalia Putri, salah seorang siswa kelas 8. Pertanyaan dari salah seorang kader lingkungan itu langsung dijawab dengan menunjukkan hasil daur ulang kertas.

Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, menyampaikan bahwa seiring perkembangan zaman, mau tidak mau manusia memasuki indutri kreatif dan setiap manusia dipaksa untuk bisa menjadi produsen sebuah karya. “Nah, jangan salah mengolah kertas bekas menjadi kertas baru adalah bentuk karya kalian. Kertas hasil daur ulangpun bisa dimodifikasi diberi tambahakan aksesoris atau pernak-pernik. Bahkan diberi pewarna alami agar kertasnya terlihat menarik,” ujarnya. Kertas daur ulang yang dijual di toko kerajinan harganya mahal dengan ukuran kertas yang tipis.

Motivasi ini semakin membuat puluhan kader lingkungan menjadi semakin bersemangat untuk mencoba membuat kertas daur ulang. Salah satunya seperti yang dilakukan Alfian Adi, salah seorang siswa kelas 8 bersama dengan temannya kompak mengangkat cetakan kertas yang sudah dimasukkan ke dalam bubur kertas. “Ternyata susah-susah gampang ya kak, butuh kesabaran saja sih kalau mau buat. Tetapi ya menyenangkan pastinya,” ucap Alfian.  Rencana kedepan, pasca kegiatan hari ini mereka ingin mandiri memproduksi kertas daur ulang di sekolah. (ryn)

Keterangan Foto : Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau mengajak kader LH SMPN 18 Surabaya untuk mengolah sampah kertas bekas yang ada di sekolah untuk dijadikan kertas baru yang bisa dipakai kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *