Workshop hidroponik hari kedua yang diikuti oleh 19 sekolah dari 2 kecamatan yakni Mulyorejo dan Sukolilo langsung dikenalkan oleh hidroponik sistem sumbu. Workshop yang diselenggarakan Dinas Pendidikan bersama dengan Tunas Hijau ini  mengajak sekolah-sekolah untuk menerapkan hidroponik di sekolahnya karena akan diadakan kompetisi hidroponik antar sekolah. Informasi tersebut menjadi informasi awal yang disampaikan oleh Tunas Hijau di ruang Aula SDN Klampis Ngasem I, Selasa (17/0).

Satu persatu alat-alat yang digunakan dalam hidroponik sistem sumbu diperkenalkan kepada sedikitnya 60 orang perwakilan siswa dan guru peserta workshop. Satuman, aktivis Tunas Hijau menyebutkan mulai dari rockwool sebagai media tanam anorganik, netpot yang berfungsi sebagai penyangga tanaman agar tidak jatuh,. “Tidak kalah pentingnya adalah nutrisi AB Mix sebagai pupuk pertumbuhan sayuran menjadi faktor penting, karena pada sistem sumbu ini air yang membawa nutrisi ke tanaman tidak bisa turun lagi atau tidak ada sirkulasinya,” terang Satuman.

Tanpa basa-basi, aktivis bertubuh kurus tinggi ini mengajak mereka untuk praktek memulai proses penyemaian bibit tanaman sayuran dengan menggunakan sistem sumbu. Bak yang sedari pagi dibawa mulai dioperasikan. “Silahkan sebagai awalannya potong rockwool menjadi bentuk dadu berukuran 2 cm, setelah itu buat lubang pada streofoam  sesuai dengan kebutuhan. Kali ini, buat saja satu atau dua lubang dulu. Setelah itu, masukkan kain flanel ke lubang netpot hingga menyerupai sumbu baru setelah itu kita harus belajar kandungan jumlah nutrisinya,” ujar Satuman.

Satuman, aktivis Tunas Hijau menjelaskan cara pemberian komposisi nutrisi AB Mix pada bak tampungan air sistem wick atau sumbu pada saat workshop hidroponik di SDN Klampis Ngasem I

Menaariknya, untuk mengetahui peningkatan pengetahuan peserta workshop mengenai hidroponik dan proses kerjanya, Satuman membuat dua kuisiner yakni pre test dan pro test yang berisikan 10 pertanyaan mengenai hidroponik. “Pre Test dan Post test ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pemahaman mereka mengenai hdiroponik sebelum dan sesudah diberi pembekalan informasi dan praktek hidroponik. Dari post test inilah bisa terlihat seberapa besar penambahan informasi yang didapatkan dari workhop ini,” terang aktivis lulusan sekolah kejuruan.

Respon dari format workshop hari ini yang menyerupai ujian disampaikan langsung oleh Muji Wahyudiyati, guru pendamping SDN Kalijudan I mengaku bahwa dua pekan lalu sekolahnya baru memulai membuat hidroponik. “Dari workshop hidroponik ini, saya dari yang tidak tahu menjadi tahu bagaimana susahnya merawat sayuran pada hidroponik dan butuh ketelantenan untuk mengecek kondisi air, nutrisi dan kesehatan sayurannya,” ujar Muji. Dirinya tidak sabar untuk segera mencoba pengalaman yang didapatkannya pada hidroponik sekolah. (ryn)

Keterangan Foto : Workshop Hidroponik hari ini langsung diawali dengan praktek membuat media hidroponik menggunaan sistem sumbu dikerjakan oleh salah seorang perwakilan sekolah dasar di Kecamatan Mulyorejo dan Sukolilo ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *