Sinom yang secara umum dikenal sebagai minuman jamu yang diminum setiap paginya, dibawakan oleh tukang jamu gendong keliling dan ditempatkan pada wadah gelas ataupun batok kelapa. Sinom jaman now bertransformasi  menjadi minuman perasa penambah semangat yang bisa diminum kapan saja, ditempatkan pada lemari es dingin dan ditempatkan pada botol plastik. Gambaran tersebut yang dideskripsikan oleh SDN Pradah Kalikendal I menjadikan sinom sebagai salah satu produk unggulan.

Informasi tersebut disampaikan langsung oleh Dian Sofamarita, guru penanggung jawab kegiatan lingkungan sekolah kepada Tunas Hijau saat kunjungan dan pembinaan lingkungan. Menggunakan mobil edukasi lingkungan hidup keliling atau kerap disebut Eco Mobile PJB, Kamis (12/04). Dari beberapa produk yang sudah diproduksi dan dijual kepada konsumen yakni warga sekolah dan sekitarnya, sinomlah yang mendapat respon lebih tinggi daripada produk lainnya. Seperti produk daur ulang dari botol plastik berupa bros, bando dan lainnya.

Priscilia Mega, salah seorang siswa kelas 5, mengatakan sinom produksi sekolahnya sudah dijual di dalam sekolah saat bazar produk, dijual di sekitar sekolah ditawarkan kepada tetangga-tetangga sebelah sekolah, warga di belakang sekolah. “Yang paling seru adalah saat kami menggelar kegiatan bazar produk di luar sekolah. Kami menjual produk es sinom di salah satu supermarket terbesar di daerah HR Muhammad dekat sekolah dan respon pengunjungnya istimewa,” ucap Mega, siswa yang tergabung dalam tim pemasaran.

Kader LH SDN Pradah Kalikendal I mengecek kondisi tong komposter yang butuh perhatian ekstra agar cepat panen dengan terus diisi dengan sampah organik

Tidak hanya membahas mengenai perkembangan program Ecopreneur saja, guru yang juga pembina Pangput ini menunjukkan program lingkungan terbarunya yakni hidroponik. Menempel pada tembok di sisi parkir motor guru, sekolah yang terletak di Jalan Mayjen HR Muhhamad 159 ini memiliki 2 instalasi hidroponik dengan ditengah-tengahnya adalah bak penampungan airnya. “Yang satu instalasi terbuat dari pipa, satu lainnya terbuat dari pipa yang dipotong setengah, kemudian diberi gabus atau stereofoam bekas sebagai penahan netpotnya,” jelas Dian.

Dengan jenis bibit sayuran seperti kangkung, sawi dan selada, program baru yang sedang booming diterapkan sekolah-sekolah ini diharapkan bisa menjadi alternatif edukasi lingkungan bagi warga sekolah. “Rencananya memang sebagai media pembelajaran juga bagi anak-anak, agar mereka lebih menyukai sayuran melalui proses perawatannya yang membutuhkan ketelatenan. Tujuan lainnya ya alternatif produk baru program Ecopreneur dengan mengolah sayuran menjadi menu makanan sehat,” imbuh guru yang suka travelling.

Diakhir kunjungan, Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau sekaligus operator Eco Mobile PJB, mengajak puluhan orang siswa kelas 4 dan 5 ini mengecek pengolahan sampah organik pada keranjang dan tong komposter. “Kalau melihat kondisinya, kalian perlu piket rutin untuk mengisi keranjang dengan sisa makanan, tidak harus menunggu saat grebek pasar. Bila sampah organiknya terlalu banyak beri tambahan starter kompos,” saran Anggriyan. (ryn)

Keterangan Foto : Perusahaan siswa SDN Pradah Kalikendal I foto bersama dengan kepala sekolah sekaligus mempromosikan produk unggulan mereka yakni sinom pada saat kunjungan Eco Mobile PJB ke sekolahnya, Kamis (12/04)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *