Konsisten menjadi kunci sebuah usaha bisa bertahan dalam memasarkan produknya kepada konsumen atau pelanggan. Prinsip tersebut coba diterapkan oleh perusahaan siswa SMPN 28 Surabaya dalam menjalankan program wirausaha lingkungan Ecopreneur 2018. Produk unggulan mereka yakni nugget kulit pisang, kertas kreatif dengan beragam bentuk dan olahan lainnya yang menggunakan bahan baku kulit pisang.

Informasi tersebut disampaikan kepada Tunas Hijau bersamaan dengan digelarya kunjungan sekaligus pembinaan lingkungan bersama Eco Mobile PJB di sekolahnya, Kamis (12/04). Disampaikan oleh Daffa Arya Lesmana, siswa kelas 7, selama tiga kali digelarnya tantangan Ecopreneur menjadi momen menguntungkan bagi mereka untuk melakukan penjualan produk di dalam maupun di luar sekolah. “Kalau yang konsisten dijual produknya ya nugget kulit pisang ini kak, lalu dua  kali penjualan baju bekas untuk modal,” ujar Daffa, koordintor pemasaran.

Dari tiga kali momen penjualan produk hal itu berarti mereka sudah melakukan enam kali penjualan produk di dalam dan di luar sekolah. Dari enam kali penjualan produk di berbagai tempat tersebut, perusahaan siswa yang berlokasi di Jalan Lidah Wetan 29B ini mendapatkan hasil penjualan sebesar lebih dari 1 juta rupiah. Endang, guru pembina program Ecopreneur mengatakan mereka berencana menggelar bazar lagi pada momen peringatan hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April.

Kader LH SMPN 28 mengecek kondisi tong komposter yang ada di dekat pos satpam. Letaknya yang jauh dari jangkauan membuat kondisi sampah daun di dalam tong kering, sehingga Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau menyarankan untuk diberikan tambahan air atau air leri agar mempercepat prosesnya

“Sekedar bocoran, pada peringatan hari Bumi kami menggelar beragam kegiatan seperti lomba puisi, mural lingkungan ditambah tim ecopreneur berencana untuk menggelar bazar penjualan produk mereka,” ungkap Endang. Disinggung mengenai produk unggulan terdahulu es krim jamur, mereka menyampaikan bahwa tahun ini produk jamur sedang mengalami hiatus atau berhenti sementara. Faktor lainnya karena mereka ingin memunculkan produk ikon baru selain jamur, dipilihlah kulit pisang karena di sekolah memang ada kebun pisang di belakang.

Dalam kunjungan Eco Mobile PJB yang secara konsisten pula dilakukan, Puluhan orang siswa kelas 7 langsung tertarik dengan adanya perpustakaan lingkungan milik mobil dengan tenaga surya diatasnya. Muhammad Alfan, siswa kelas 7, mengatakan sedang ada jam kosong di kelas, sehingga daripada mereka tidak ada aktivitas, dirinya mengajak teman-teman yang lain untuk menghabiskan waktu dengan membaca di perpustakaan. “Saya tahu Eco Mobile PJB karena kan saya juga anak kader lingkungan, jadi pasti tahu di belakang mobil ada perpusnya dan itu malah bermanfaat menambah wawasan mereka daripada hanya diam saja di kelas,” terang Alfan.

Diakhir kunjungan, Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, mengajak mereka untuk mengecek kondisi pengomposan yang ada pada tong komposter. Setelah dua tong komposter yang terletak di dalam sudah dijalankan optimal, tampaknya tong komposter yang terletak di dekat pos satpam ini  kurang diperhatikan. “Sekedar saran, kalau bisa tidak hanya sekedar diisi penuh tetapi juga perlu diperhatikan kelembabannya. Kalau diisi sampah organik dedaunan saja, tanpa diberi air atau air leri agar mempercepat prosesnya ya bakal lama,” saran Anggriyan. (ryn)

Keterangan foto : Tim perusahaan siswa SMPN 28 Surabaya menyampaikan aliran kas atau dana keuangan selama mereka menjalankan program Ecopreneur melalui media mading dan tabel pada saat kunjungan Eco Mobile PJB di sekolahnya, Kamis (121/04)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *