Pekan ujian sekolah yang serentak digelar sekolah-sekolah tidak menyurutkan semangat berkegiatan puluhan orang siswa kader lingkungan SMPN 8. Salah satunya adalah aktivitas rutin mereka mengisi lubang resapan biopori dengan sampah organik. Lubang resapan yang dibuat dengan kedalaman maksimal 100 cm, berpenutup pipa yang diberi lubang agar sirkulasi udara terjadi, sehingga tidak membuat sampah organik yang dimasukkan ke dalamnya keluar.

Informasi tersebut disampaikan mereka kepada Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau saat melakukan kunjungan sekaligus monitoring perkembangan program Ecopreneur bersama dengan Eco Mobile PJB, Senin (09/04). Kejadian menarik terjadi saat proses pengisian lubang biopori yang dilakukan tim biopori setelah kedatangan mobil edukasi lingkungan hidup keliling. Kader lingkungan sekolah yang berada di dekat Pintasan Rel Kereta Api Stasiun Kota ini terlihat mencacah sampah daun dengan menggunakan tangan.

Bambang Soerjodari, aktivis Tunas Hijau yang juga operator Eco Mobile PJB, menyarankan agar sampah dedaunan langsung dimasukkan ke dalam lubang biopori tanpa perlu dicacah dahulu  apalagi menggunakan tangan. “Kalau sampah daun kan, tanpa dicacah sudah cepat proses pembusukannya, biar lebih cepat dan menghemat waktu. Kalau sampah sayuran seperti hasil grebek pasar ya harus dicacah agar lebih cepat hancur,” terang Bambang.

kader lingkungan melakukan pengisian lubang resapan biopori dengan sampah sisa makanan sebelum kedatangan Eco Mobile PJB di SMPN 8 Surabaya untuk melakukan pemantauan perkembangan program lingkungannya, Senin (09/04)

Sementara, anggota kader lingkungan yang kerap disebut Green Wolu  ini mengemas hasil panen kompos dari tong komposter untuk dijual kepada guru-guru yang sebelumnya sudah pesan. Dari dua buah tong komposter, diperoleh 15 kantong kompos dengan berat setiap kantongnya 4 – 5 kg. Disampaikan oleh Anjar Mukhayarah, guru penanggung jawab lingkungan, pada pekan lalu mereka sudah memanen kompos karena ada pesanan dari guru-guru, selain itu juga agar produksi komposnya tetap berjalan berkelanjutan.

“Kalau sudah habis kan kami bisa menggelar aksi grebek pasar untuk mengisi tongnya lagi,” ujar Anjar kepada Tunas Hijau. Kondisi berbeda justru terlihat pada proses pengomposan, dua keranjang komposter milik mereka terlalu basah hingga menimbulkan bau yang tidak sedap begitu bantalan sekam dibuka. Sisa makanan yang harusnya tertumpuk di dalam starter kompospun terlihat berada di permukaan. Hal ini membuat Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, menyarankan untuk diberi tambahan kompos starter.

“Karena kondisi komposter kalian terlalu basah, makanya bakteri di dalam yang harusnya mengurai sampah sisa makanan tidak ada atau bisa saja mati. Ditambah lagi, harusnya sisa makanan tidak boleh dibiarkan muncul di permukaan seperti ini, harus ditimbun, itulah penyebab bau sampahnya keluar,” terang Anggriyan. Sukarjo, kepala SMPN 8 yang dulunya mantan kepala SMPN 49 berharap kedepannya bisa melakukan berbagai macam aksi lingkungan dan kebijakan lingkungan di sekolahnya.

Produk unggulan Es Paluv atau es Pandan Aloevera yang menjadi produk unggulan sekolah tahun lalu, menjelang berakhirnya durasi tantangan ketiga Ecopreneur masih akan diproduksi. Hingga pekan ketiga, mereka masih belum memproduksi produk unggulan karena masih harus fokus pada produk kompos dan pengumpulan minyak jelantah bekas. “Setelah minggu ini, saya ingin mengajak tim produksi untuk membuat produk unggulan dan menjualnya kepada teman-teman lainnya hingga guru-guru,”  ucap Sukarjo. (ryn)

Keterangan Foto : kader lingkungan SMPN 8 foto bersama kepala sekolah dan tim perusahaan siswa sekolah program Ecopreneur dengan membawa kompos sebagai salah satu produk ikon mereka dalam kunjungan Eco Mobile PJB, Senin (09/04)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *