Menunjukkan bahaya penggunaan kemasan plastik sekali pakai tidak harus dengan membuat plastik tersebut dipanaskan agar menguap. Bisa juga dengan menunjukkan dampak yang terjadi apabila kemasan plastik dibiarkan atau dibuang sembarangan. Melalui video lingkungan yang bercerita tentang burung laut yang mati karena memakan sampah plastik hingga tidak bisa terurai di dalam perutnya sampai seekor penyu yang lubang hidungnya tersumbat sendok plastik.

Fakta sekaligus infomasi tersebut disampaikan di hadapan 60 orang lebih siswa kelas 3 dan 4 SDN Wonokusumo I saat kunjungan sekaligus monitoring perkembangan program Ecopreneur bersama dengan Eco Mobile PJB, Senin (09/04). Kuis berhadiah stiker lingkungan limited edition digunakan oleh Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau untuk memancing respon warga sekolah setelah melihat video dampak sampah plastik.

Kader lingkungan SDN Wonokusumo I melihat tampilan video lingkungan tentang bahaya penggunaan plastik kemasan bila dibuang begitu saja bisa membahayakan hewan di lautan. Bersama dengan Eco Mobile PJB, , puluhan siswa kelas 3 dan 4 ini terlihat menikmati video berdurasi kurang dari 3 menit ini

Tanpa membutuhkan waktu lama, Putra Bima, salah seorang siswa kelas 4, mengatakan kebiasaan membuang sampah sembarangan yang dilakukan manusia membuat burung laut yang harusnya makan ikan-ikan di laut malah berganti. “Sampah plastik yang dibuang sembarangan apalagi di selokan air pasti berakhir di lautan. Di lautan sampah plastik itu kan mengambang, makanya burung-burung laut menyangka itu makanannya. Jadi ya sampai nanti burungnya mati sampah jenis tutup botol, korek dan plastik lainnya ya masih awet,” ujar Putra.

Dengan berbekal video berdurasi pendek ini, Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, mengajak mereka untuk melakukan aksi bersih-bersih memungut sampah plastik yang berserakan di halaman sekolah agar dibuang di tempat sampah. “Jangan lupa juga untuk mengecek lubang resapan biopori kalian, kalau ada sampah plastiknya ya diambil karena kalau tidak diambil maka air hujan tidak akan bisa meresap ke dalam permukaan tanah, jadi setelah diambil sampahnya baru diisi lagi dengan sampah organik dedaunan kering,” terang Anggriyan.

Merealisasikan tantangan ketiga program wirausaha lingkungan atau Ecopreneur, puluhan siswa kemudian mengumpulkan sampah khusus kertas yang ada di kelas-kelas. Ember atau pot besar dijadikan sebagai tempat sampah sementara untuk kertas. “Tidak hanya sekedar di kumpulkan kak, tetapi langsung dipisahkan antara kertas yang layak pakai dengan kertas yang sudah kotor. Kalau kertas yang sudah rusak, langsung diolah dengan alat cetak sablon yang terbuat dari kassa nyamuk,’ ujar Aprilia Mawardani, siswa kelas 4. (ryn)

Keterangan Foto : Kader Lingkungan SDN Wonokusumo I melakukan pemilahan sampah khusus kertas yang didapat dari kelas-kelas dalam rangka merealisasikan tantangan ketiga Ecopreneur sekaligus saat kunjungan Eco Mobile PJB dan Ecopreneur di sekolahnya, Senin (09/04).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *