36 orang siswa finalis lomba video pendek mendapatkan pembelajaran yang luar biasa pada workshop kedua lomba video pendek menggunakan ponsel kali ini. Pasalnya, berbeda dari workshop sebelumnya, lokasi workshop kali ini begitu spesial. Benar saja, KORIDOR COWORKING SPACE atau akrab disebut KORIDOR, yang merupakan tempat nongkrong anak muda dengan segala macam sarana dan fasilitas untuk mendukung anak muda menghasilkan karya.

Berbagai macam sarana dan tampilan interior KORIDOR mampu membangkitkan motivasi  dan semangat mereka dalam membuat karya. Dalam workshop yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya, Sabtu (07/04), mereka diberikan pemahaman materi baik secara teknik, skill maupun berdasarkan pengalaman dari praktisinya secara langsung. Pesan tersebut disampaikan oleh Bram Azzaino, aktivis Tunas Hijau yang mendampingi kegiatan ini.

Menurutnya, bila workshop sebelumnya peserta sudah mendapatkan basic pengambilan gambar menggunakan ponsel, kali ini mereka mendapatkan pemahaman pengambilan gambar secara detil dengan mempertimbangkan aspek-aspek pendukung lainnya seperti suara, shaggy atau goyangan hingga efek animasi. “Kalau pembuatan video baik melalui ponsel atau gear lainnya, kalian harus tahu tujuan video itu dibuat. Apakah video dokumentasi, video dokumenter, video reportase. Kalau reportasi durasinya 2 – 3 menit,” ujar Bram.

Osbert Setiawan, Community Oficer KORIDOR COWORKING SPACE, mengatakan bahwa kalau di era sekarang, siswa SMP sudah bisa secara dasar menjadi video maker, sedangkan dirinya baru tertarik di dunia video pada saat SMA hingga kuliah. “Saya percaya dengan kemampuan kalian sekarang dan kemampuan itu dilatih terus menerus, kalian akan menghasilkan karya video yang bagus suatu hari nanti,” ucap Osbert.

Pria berkaca mata ini menambahkan dalam pembuatan video perlu diperhatikan kualitas cahaya, apakah backlight atau tidak, suaranya berisik atau tidak dan transisinya sudah searah dengan teknik pengambilan gambarnya atau tidak. “Tidak kalah pentingnya adalah adanya story board atau ide cerita yang divisualkan sebelum pembuat video memulai proses shooting atau pengambilan gambar. Jadi, dengan story board itulah memudahkan kalian untuk mengambil setiap frame pengambilan gambar secara runtut, tidak berantakan,” terangnya.

Peserta workshoppun diberikan kesempatan untuk mengexplore setiap sisi, sarana dan fasilitas di KORIDOR untuk menjadi video pendek yang nantinya akan dibahas bersama. Nektar Jawadwipa, salah seorang finalis dari SMPN 16, mengatakan kesempatan ini langsung digunakan untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari narasumber. “Seru rasanya sudah berkeliling, mengeksplore tempat-tempat menarik di KORIDOR, apalagi dapat apresiasi dari narasumbernya langsung,” ucap Nektar, siswa kelas 8.

Disinggung mengenai partai final lomba video pendek menggunakan ponsel, Bram mengatakan secara prosentase, kualitas video diutamakan daripada jumlah viewers. “Kalian harus peka terhadap isu apa yang dijalankan, bertema pengelolaan sampah. Durasi waktunya 1-3 menit, pengambilan gambar harus melibatkan banyak anak-anak atau orang. Jangan lupa ini yang baru, kumpulkan juga story board yang sudah kalian buat tentang konten video pendek lingkungan agar match atau cocok antara pesan di storyboard dan di video asli kalian,” ujar aktivis lulusan ITS Teknik Lingkungan. (ryn)

Keterangan Foto : 36 orang siswa finalis lomba video pendek dengan menggunakan ponsel sebagai gearnya foto bersama pasca kegiatan workshop pembekalan kedua bagi mereka yang digelar Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya di salah satu tempat nongkrong terpopuler di Surabaya, KORIDOR COWORKING SPACE, Sabtu (07/04)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *