Pembekalan Program Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2018 kembali digelar di ruang pola Bappeko yang dihadiri lebih dari 20 sekolah dasar Surabaya, Sabtu  (07/04). Secara berkelanjutan setiap  tahunnya, Tunas Hijau menggelar program lingkungan ikonik yang hanya diperuntukkan untuk anak-anak sekolah dasar. Informasi tersebut disajikan Tunas Hijau dihadapan puluhan orang guru pembina lingkungan sebelum memulai program Pangput LH 2018.

Lebih dari 80 orang yang terdiri dari siswa dan guru mendapat pengarahan tentang jalannya proses tahapan seleksi Pangput. Dari keseluruhan peserta, beberapa orang siswa calon Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2018 ini sudah pernah mengikuti Pangput sebelumnya. Disampaikan oleh Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, bagi yang sudah pernah mengikutii Pangput pasti tahu alurnya, kalau yang baru ya harus dicermati dan atur strategi,” ujar Anggriyan.

Salah satu calon peserta Puteri Lingkungan Hidup menjelaskan tentang proyek lingkungan hidup yang berasal dari pemanfaatan limbah kult bawang putih, sebagai bagian dari simulasi tahapan seleksi presentasi proyek, Sabtu (07/04)

Pengetahuan mengenai cara memulai proyek lingkungan juga disampaikan oleh Satuman, aktivis Tunas Hijau, kepada sebagian besar siswa yang baru kali pertama mengikuti program ini. Menurutnya, memulai proyek lingkungan itu dimulai dengan mengetahui permasalahan lingkungan yang ada di sekitar, baik itu di rumah maupun di sekolah. “Misalkan, kalau di sekolah terdapat masalah sampah, ya proyek kalian adalah sesuatu yang bisa membuat masalah sampah teratasi dengan sekreatif mungkn caranya,” terang Satuman.

Proyek lingkungan harus sudah berjalan minimal selama satu minggu, bukan proyeknya baru mulai ketika menjelang seleksi awal. Dalam pembekalan tersebut, satu persatu calon peserta Pangput menyampaikan nama proyek lingkungan masing-masing yang sudah berjalan. Terbagi menjadi beberapa yakni sampah, budidaya, pengolahan dan adopsi.”Beberapa proyek lingkungan mereka itu ada pengomposan organik, pengolahan limbah kain bekas atau kardus bekas menjadi barang berguna, budidaya tanaman Okra, budidaya cincau, adopsi kampung hingga hidroponik,” ujarnya.

Menariknya, dalam pembekalan ini anak-anak juga diajak untuk mensimulasikan salah satu tahapan proses seleksi yakni presentasi. Disampaikan oleh Anggriyan, durasi waktu untuk presentasi proyek terbatas, sehingga anak-anak perlu menyampaikan informasi tentang proyek yang penting saja. “Sampaikan tentang intensitas melakukan proyek, dampak proyek kedepannya dan sejauh apa proyek kalian berjalan,” ucap Anggriyan.

Kedepan, pasca pembekalan proyek program Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2018 bisa tercipta hubungan yang semakin erat dan kompak. “Sejak awal tahapan seleksi, peran orang tua memang kami minta sebagaipendamping atau pembina ketika di rumah. Karena bila anak-anak mengerjakan proyeknya di sekolah masih ada guru. Kalau di rumah ya butuh support atau dukungan orang tua,” ucap Satuman. Dalam pembekalaan tersebut, tahapan seleksi awal yang  berisi mengenai essay bila menjadi Walikota Surabaya dan presentasi proyek. (ryn)

Keterangan Foto : Calon Peserta Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 3018 foto bersama setelah workshop atau pembekalan materi proyek lingkungan hidup yang diselenggarakan Tunas Hijau di Ruang Pola Bappeko, Sabtu (07/04)

 

One thought on “Simulasi Presentasi Proyek Warnai Workshop Pembekalan Pangput LH 2018

  1. Tahun ini sepertinya semakin banyak peserta pangputnya. Semoga anak – anak pun akan mendapatkan pengalaman lebih dan akan menjadi cerita dia di masa mendatang, dengan keikutsertaannya pada kegiatan pangput ini.
    Karena kegiatan ini bukan ajang kecantikan atau ketampanan, sehingga setiap siswa SD bisa ikut.
    Dan berdasarkan pengalaman, mereka akan mengenang keikutsertaannya.
    Semangat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *