Maintenence atau pemeliharaan menjadi salah satu faktor kesulitan yang dialami oleh sekolah-sekolah dalam menjalankan program hidroponiknya. Pemeliharaan yang dimaksudkan adalah berkelanjutan mengecek tingkat keasaman atau kebasahan pH air, memberikan nutrisi sebagai asupan makanan tanaman sayur organiknya. Informasi tersebut disampaikan oleh Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau kepada kader lingkungan SMPN 15 Surabaya, Jumat (06/04).

Bersama dengan mobil edukasi lingkungan hidup keliling atau kerap disebut Eco Mobile PJB, aktivis lingkungan yang juga mahasiswa jurusan Komunikasi ini mengajak kader lingkungan bagian hidroponik untuk memindahkan semaian tanaman sayur selada dan sawi ke instalasi hidroponik berbentuk vertikal. “Nanti, kalian tambahkan nutrisi AB Mix ini ke dalam seember air yang sudah kakak ambil, setelah itu pindahkan semaian bibit sayur selada dan sawinya di setiap lubang ya,” ujar Anggriyan.

Bambang Soerjodari, aktivis Tunas Hijau lainnya memberikan saran agar setiap dua atau tiga hari sekali dilakukan pengecekan kondisi air. “Kalau hidroponik kalian terkena air hujan, maka kondisi air yang ada di bak penampungan pasti berbeda. Kalau sudah begitu ya kalian perlu yang namanya pH Down atau penurun angka pH air agar kondisi pH airnya normal seperti semula,” imbuh Bambang. Tidak hanya mengajak memindahkan hidroponik saja, mereka juga diajak untuk mengecek kondisi tong komposter.

Pengecekan kondisi tong komposter yang ada di belakang sekolah dilakukan oleh kader LH dengan memberikan air agar kondisi sampah organik di dalamnya lebih lembab. Aktivitas tersebut dilakukan bersama Eco Mobile PJB, Jumat (06/04)

Kedua tong komposter milik sekolah yang berlokasi di Jalan Kedung Cowek Nomor 352 ini kering. Itulah yang menjadi penyebab lamanya proses pengomposan sampah organik dedaunan secara alami. Kondisi tersebut membuat Kurniawan Nur Cahya, salah seorang siswa kelas 8 yang berinisiatif untuk mengambil air tampungan AC kemudian dimasukkan ke dalam tong komposter. “Kalau kering ya baiknya diberi air, lalu diaduk sehingga sampah organik kalian itu lembab. Kalau mau cepat jadi kompos ya setiap hari diberi air cucian beras atau air leri,” saran Anggriyan.

Disinggung mengenai perkembangan program wirausaha lingkungan, Tepi Lindia Nanta, siswa kelas 8 mengatakan minggu lalu mereka baru saja menggelar penjualan produk unggulan di beberapa tempat seperti di dalam sekolah, di sekitar sekolah hingga ke tempat umum. “Produk yang kami jual itu ada teh sukun, es krim sukun donat sukun dan bakpao sukun. Bakpao sukunlah yang menjadi primadona produk terlaris di sekolah,” ujar Tepi, siswa anggota tim pemasaran.

Rencana kedepannya, untuk realisasi tantangan ketiga Ecopreneur 2018, mereka menggelar aksi pembuatan lubang resapan biopori di kampung salah satu siswa anggota Permata Hijau, sebutaan tim lingkungan sekolah. “Ya kalau bisa ya lakukan sosialisasi dulu kepada warga kampung tentang apa pentingnya membuat lubang biopori dan manfaat untuk warga kampung apa, baru kalau sudah mendapat lampu hijau, aksi membuat biopori di kampung diviralkan,” ujar Tepi. (ryan)

Keterangan Foto : Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau bersama dengan tim hidroponik dan beberapa orang lainnya untuk memindahkan semaian bibit sawi dan selada di tempat instalasi yang baru yakni vertikal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *