Demi merealisasikan tantangan ketiga program Ecopreneur yakni melakukan adopsi kampung biopori, puluhan orang siswa anggota perusahaan siswa SMPN 19 rela berjalan kaki menempuh jarak 300 meter menuju kampung Deles. Perjuangan merekapun berimbang dengan semangat yang tinggi, hal ini dikarenakan sambil berjalan mereka membawa serta alat bor biopori menuju kampung yang dipinggir kali atau sungai ini.

Informasi tersebut didapatkan oleh Tunas Hijau saat mengikuti kegiatan sosialisasi dan pembuatan lubang resapan biopori di beberapa titik kampung, salah satunya kampung Deles gang buntu, Kamis (05/04).Menurut Dian Rahmawati, guru penanggung jawab lingkungan hidup, dipilihnya kampung Deles karena lokasinya yang terdekat dengan sekolah. “Selain itu, beberapa orang siswa kader lingkungan tinggal di kampung Deles, jadi aksesnya mudah,” ujar Dian.

Hanam, salah seorang siswa kelas 8 yang juga merupakan warga kampung Deles, mengatakan saat hujan deras beberapa titik kampung masih ada genangan airnya meskipun sudah ada gorong-gorong di tengah jalan kampung. “Ya kan tidak bisa kalau hanya mengandalkan kerja gorong-gorong saat hujan deras datang, beberapa titik tertentu butuh lubang resapan seperti di bawah talang buangan air, sehingga air hujan bisa langsung meresap ke dalam tanah,” ujar koordinator kegiatan biopori.

`
Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau sekaligus operator Eco Mobile PJB memberikan evaluasi kegiatan adopsi kampung Deles kepada anggota perusahaan siswa SMPN 19 Surabaya di Eco Mobile PJB

Niatan baik dari anggota eksekutif perusahaan siswa yang berlokasi di Jalan Arif Rahman Hakim 103B mendapatkan respon langsung dari Zainal Abidin, ketua RT 05, yang mengapresiasi aksi lingkungan yang ingin mereka lakukan di kampungnya. Dirinya menambahkan perlu berkoordinasi dengan warganya terkait rencana pembuatan biopori. “Kalau saya boleh request, lubang bioporinya harus rapi dan tempatnya tidak sembarangan tentunya harus berkelanjutan, tidak hanya sekali proses pembuatan kemudian selesai tidak ada perawatan,” terang Abidin.

Momen realisasi tantangan adopsi kampung biopori dimanfaatkan oleh tim pemasaran untuk mempromosikan sekaligus menjual produk unggulan sekolahnya yakni es krim pepaya dan sukun. Jasmine, salah seorang anggota tim pemasaran menjajakan produk terlaris di sekolahnya kepada warga kampung yang secara kebetulan berkumpul di balai RW 01 untuk kegiatan posyandu. “Ayo silahkan bu, dibeli es krim pepaya yang enak dan murah serta menyehatkan tidak mengandung pengawet,” terang Jasmine, siswa kelas 8.

Dalam sekejap, produk olahan dari buah pepaya yang ada di hutan belakang sekolah ludes terjual oleh ibu-ibu kader Posyandu. Review yang diberikan kepada produk inipun dibilang enak dan tidak berasa seperti makan es krim. Zainal Abidin menyarankan kepada mereka agar tidak hanya membuat biopori saja, lebih lanjut dirinya ingin diberikan pembekalan tentang pengomposan bagi warganya karena di kampungnya terdapat alat pengomposan yang tidak berjalan.(ryn)

Keterangan Foto : Puluhan orang siswa anggota eksekutif perusahaan siswa SMPN 19 mensosialisasikan rencana adopsi kampung Deles menjadi kampung biopori di hadapan ketua RT 05, Zainal Abidin disela-sela kegiatan realisasi tantangan ketiga Ecopreneur 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *