Produk unggulan paling banyak diminati oleh pelanggan perusahaan siswa SDIT Al Uswah adalah sirup blimbing wuluh. Pelanggan tetapnya sudah mencapai 200 orang yang terdiri warga sekitar, walimurid hingga masyarakat sekitar sekolah. Informasi tersebut disampaikan kepada Tunas Hijau saat menggelar kunjungan dan monitoring program ecopreneur di sekolahnya, Kamis (05/04) bersama dengan mobil edukasi lingkungan hidup keliling atau kerap disebut Eco Mobile PJB.

Sekolah islam yang berlokasi di Kejawan Gebang ini getol sekali merealisasikan setiap tantangan program wirausaha berbasis lingkungan dengan cepat. Salah satunya adalah tantangan membuat aturan pemilahan sampah khusus kertas. Menurut Mizwan, guru penanggung jawab lingkungan, di depan kelas sudah terdapat satu kardus khusus untuk sampah kertas.

“Jadi setiap jam istirahat, anak-anak tim ecopreneur akan mengambil kardus-kardus yang ada di depan kelas untuk di kumpulkan di ruang kader lingkungan. Dalam sepekan ini, kami bisa menghaslkan sebanyak 50 kg sampah kertas kak,” jelas guru berbadan gemuk berkaca mata ini. Sebagian dari hasil sampah kertas yang terkumpul dimanfaatkan untuk membuat produk olahan dari kertas, seperti tempat tisu, tempat pensil, tempelan kulkas dan beberapa bentuk pemanfaatan lainnya.

Anggota perusahaan siswa SDIT Al Uswah melakukan pengecekan keranjang komposter yang ada di belakang sekolah. Kondisi keranjang komposter yang terlalu basah karena air hujan disarankan oleh Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau untuk ditambahkan kompos starter

Pasca pengecekan program pemilahan sampah kertas, Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau diajak untuk mengecek pengomposan keranjang yang sudah mereka jalankan. Aktivis yang juga Operator Eco Mobile PJB kaget karena kondisi di dalam keranjang sudah basah dan salah satu isi sisa makanannya masih berada di atas permukaan starter kompos. “Harusnya, keranjang ini ditempatkan pada tempat yang terhindar dari air hujan, selain itu perlunya pengisian sisa makanan setiap dua hari sekali dan mengaduknya,” imbuhnya.

Rencana kedepan, tim pemasaran dan tim produksi akan merealisasikan adopsi kampung biopori di salah satu kampung sekitar sekolah dan melakukan penjualan produk unggulan sirup markisa di tempat tersebut. Abdullah Azzam, salah seorang siswa angota pemasaran mengatakan dirinya dan anggota lainnya akan melakukan sosialisasi sekaligus meminya izin untuk membuat lubang biopori keesokan harinya.

“Selain membuat lubang biopori di perumahaan dekat sekolah, kami juga akan mempromosikan produk unggulan sirup blimbing wuluh dan produk dari olahan kertas yang bernilai jual, seperti tempat pensil, tempat tisu dan lainnya,” ujar Azzam. Targetnya adalah produk daur ulang kertas bisa terjual oleh warga kampung dan adopsi kampung biopori ini dilakukan secara berkelanjutan tidak hanya satu kali kegiatan saja, melainkan saling menguntungkan dan dijalankan terus. (ryn)

Keterangan Foto : Anggota perusahaan siswa SDIT Al Uswah Foto bersama dengan membawa produk dari pengolahan sampah kertas dan beberapa poster promosi penjualan produk di depan Eco Mobile PJB, Kamis (05/04)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *