Perusahaan siswa SMPN 23 Surabaya tidak sedang berlomba balap lari dalam program wirausaha lingkungan hidup. Posisi  mereka yang tertinggal dalam realisasi tantangan periodik tidak lantas membuat mereka patah semangat dan lesu. Tertinggal 2 tantangan ecopreneur yang belum direalisasikan ditambah tantangan ketiga pada dua pekan kedepan membuat pekerjaan rumah mereka menumpuk.

Gambaran tersebut disampaikan Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau kepada puluhan orang siswa yang menjadi anggota dan eksekutif perusahaan siswa saat kunjungan Eco Mobile PJB di sekolahnya, Selasa (03/04). Bukan tanpa alasan, ketertinggalan mereka dalam merealisasikan tantangan dikarenakan kesibukan kegiatan sekolah. Dari 7 poin tantangan pertama dan 5 poin tantangan kedua, mereka sudah merealisasikan beberapa diantaranya.

Perusahaan siswa bernama Kenanga Jaya ini sudah merealisasikan pembentukan struktur, penggalangan modal dari bank sampah, penjualan produk unggulan di dalam sekolah. Disampaikan oleh Galuh Julieta, salah seorang wakil direktur mengatakan, mereka memang belum merealisasikan beberapa poin tantangan pertama dan kedua, tetapi untuk aktivitas penjualan produk, setiap hari produk es kepo dan es krim kepo dijual di kantin,” kata Galuh, siswa kelas 8.

Kompos yang diproduksi di rumah kompos akan menjadi salah satu produk yang akan dijual kepada pembeli yakni warga sekolah dan walimurid pada waktu bazar Jumat depan yang juga hadir walimurid

Dua minggu durasi waktu pengerjaan realisasi tantangan satu, dua dan tiga menjadikan tantangan tersendiri bagi mereka untuk mengejar ketertinggalan dengan sekolah yang lain. Merekapun optimis, dengan strategi pembagian tugas tanggung jawab untuk mengerjakan setiap poin dan perhitungan waktunya. Belgis Syifa, siswa kelas 8, mengaku langkah efektif adalah dengan satu poin harus selesai dikerjakan dalam waktu satu hari. “Kami akan buat timeline kegiatan realisasinya kak, yang pasti masih semangat untuk merealisasikan semuanya tepat waktu,” terang Belgis.

Salah satu rencana realisasi tantangan ketiga adalah mengadopsi kampung Kedung Asem RT 01 RW 01 Kelurahan Kedung Baruk, dekat sekolah Jiwa Nala. Sekolah yang pernah menjadi juara Ecopreneur ini akan mengajak anak-anak untuk sosialisasi sambil membuat biopori di kampung tersebut. Sementara untuk meningkatkan penjualan produk unggulan, Jumat depan mereka menggelar bazar produk yang sejalan dengan adanya rapat walimurid.

Salah satu produk unggulan yang disiapkan untuk dijual kepada pelanggan saat bazar adalah kompos organik. Irvan Dwi, siswa yang tergabung dalam tim produksi bersama teman-teman lain mengemas pupuk kompos dengan kemasan plastik. “Setiap 4 kg kompos harganya adalah 10.000 rupiah, satu kotak pengomposan di rumah kompos siap untuk dikemas. Bila satuannya dikalkulasikan, berat total kompos yang dipanen lebih dari 1 ton,” jelas Irvan Dwi, siswa kelas 8. (ryn)

Keterangan Foto : Foto bersama anggoota perusahaan siswa SMPN 23 Surabaya di depan Eco Mobile PJB, karena mereka akan menggalakkan dan merealisasikan tantangan satu, dua dan tiga dalam waktu dua minggu kedepan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *