Lebih dari 165 orang siswa dan guru SDN kedung Cowek I Surabaya mengadakan aksi pembuatan lubang resapan biopori di area taman Jembatan Suramadu, Kamis (29/3/2018). Ditargetkan 100 lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 cm dibuat pada aksi ini dalam rangkaian Ecopreneur 2018 dan peringatan Hari Air Sedunia yang bekerja sama dengan Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) dan Tunas Hijau.

Sampah daun sebanyak satu bak terbuka kendaraan colt pick up bantuan dari Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) didatangkan untuk mengisi lubang resapan biopori. “Memanfaatkan lubang resapan biopori untuk mengolah sampah daun menjadi kompos dan asupan biota tanah,” ujar Sukarti, kepala SDN Kedung Cowek I.

Tidak sedikit kendala yg ditemui namun aksi tetap berlangsung meriah dan gembira. Salah satu kendala yang paling sering ditemui adalah banyak bebatuan ketika ngebor. Menurut Della Anggreani, siswa VD, kalau tangan sampai capek dan panas karena memutar bornya susah banyak bebatuannya. “Tanganku jadi merah,” tutur siswi yang akrab disapa Delia.

Guru dan siswa nampak berpadu membuat setiap lubang berharap dapat merealisasikan 100 lubang resapan biopori dengan kedalaman ideal minimal 100 cm. “Angka 100 harus bisa dicapai agar air hujan bisa diserap lebih maksimal di daerah ini. Kami masukan sampah daun ke dalam lubang resapan agar bisa menjadi kompos lalu menyuburkan tanah. Kita bisa melihat disini banyak tanaman yang tumbuhan subur sehingga butuh banyak nutrisi,” terang Siti Indayati, guru pembina lingkungan hidup SDN Kedung Cowek I dan komisaris Sekeci Siji student company.

Selanjutnya,  SDN Kedung Cowek I adalah akan mengajak siswa beserta wali murid agar bisa mengajak partisipasi orang tua siswa. “Kami juga akan terus memantau perkembangan lubang resapan biopori yang kami buat setiap bulannya. Jangan sampai rusak atau hilang. Karena kami berharap bisa merasakan panen komposnya,” imbuhnya.

Menurut Satuman, aktivis Tunas Hijau, membuat lubang resapan biopori merupakan bagian dari langkah konservasi air. “Karena dapat meresapkan air hujan ke dalam tanah. Apalagi semakin berkembangnya jaman, semakin sedikit area resapan air hujan. Yang ada air hujan turun tidak meresap ke tanah melainkan langsung mengalir ke selokan, sungai lalu ke laut,” ujar Satuman. Fakta tersebut bisa semakin memperburuk keadaan lingkungan hidup kita imbuhnya. (one/ro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *