Tren terbaru kini pemanfaatan ponsel pintar tidak hanya dijadikan sebagai alat mempermudah manusia memenuhi kebutuhannya. Ponsel pintar dengan segala kecanggihan teknologinya kini juga digandrungi oleh anak-anak untuk memainkan permainan online. Pemandangan berbeda tersaji di Ruang Majapahit,  gedung BAPPEKO (Badan Perencanaan Pengembangan Kota Surabaya), Sabtu (10/03). Sebanyak 120 orang siswa SMP antusias mengikuti workshop pembuatan video bertema lingkungan hidup.

Workshop video yang secara spesifik menggunakan hp selama proses pengambilan gambar dan editing ini nampaknya membuat peserta workshop berbayar ini sangat antusias. Disampaikan oleh Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, menjelaskan pada praktek pengambilan gambar melalui ponsel secara sederhana yakni long shot, medium shot dan close up. “Ketiga teknik dasar dalam pengambilan gambar yang bisa mereka terapkan melalui ponselnya,” ujar Anggriyan.

Bukan hanya tiga dasar teknik pengambilan gambar yang diperkenalkan pada peserta workshop, total terdapat 16 teknik pengambilan gambar. Jumlah tersebut mampu membuat mereka penasaran dan ingin mencoba. Berbekal ponsel pintar dan koneksi internet, Anggriyan menantang mereka untuk membuat video pendek berdurasi satu menit bertema lingkungan dengan menerapkan minimal tiga teknik dasar, medium shot, long shot dan close up. Video pendek berjenis liputan ini menggunakan SMPN 1 sebagai lokasi syutingnya.

Membuat video pendek memang terasa mudah bila dibayangkan dan dipelajari secara teoritis mengenai ragam tekniknya. Hal ini nampaknya yang dialami oleh sebagian besar peserta workshop yang sebelumnya mengaku sudah pernah membuat video pendek. “Membuat video pendek ini bukan hanya sekedar membuat video statis yang membiarkan kamera merekam terus seperti layaknya vlog. Ini adalah potongan video-video pendek dengan alur cerita dan pesan yang ingin disampaikan, lalu digabung menjadi satu,” ujar Anggriyan.

Gerald Reyhan, salah seorang siswa SMPN 40, mengaku mengalami kendala pada saat proses merekam gambar dikarenakan tidak adanya alat bantu untuk membuat kualitas gambar stabil. “Karena tidak ada tripod, jadi kualitas gambarnya tadi agak goyang kak, tapi masih bagus kok. Sebenarnya tadi video saya durasinya lebih dari satu menit, karena pesan yang ingin saya sampaikan terkait dengan ajakan peduli lingkungan melalui gerakan lingkungan di SMPN 1 ini,” ujar Gerald.

Sementara itu, pengalaman berbeda disampaikan oleh Ardiyanti Dyananing Widi, siswa SMPN 1 kelas 8, ini mengaku sempat keteteran dan bingung tentang pesan yang akan disampaikannya dalam video. Kebingunan ini dikarenakan, perlunya membuat storyboard atau sketsa gambar yang disusun berurutan sesuai alur cerita. “Tadinya saya ingin membuat potongan video-video pendek, malah yang ada awalnya tidak terkonsep dengan benar apa pesan yang disampaikan. Antara pesan dan stok gambarnya nggak singkron, tapi setelah itu sudah lancar semuanya,” ujar Widi.

Workshop pembuatan video menggunakan ponsel hari ini merupakan pembekalan materi bagi peserta workshop yang juga akan menjadi peserta lomba video pendek bertema sampah ini. Disampaikan oleh Bram Azzaino, aktivis senior Tunas Hijau, bila saat proses pembuatan hari ini masih mengalami kendala pada teknik-teknik dan bentuk video yang dibuat. Harapannya, saat pelaksanaan lomba yang digelar secara on the spot, mereka tidak mengalami kendala dan berhasil membuat karya yang bagus,” terang Bram. (ryn)

Keterangan Foto : 120 orang siswa SMP peserta workshop pembuatan video pendek dengan ponsel foto bersama sebagai awalan kegiatan yang digelar Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya di ruang Majapahit, gedung Bappeko, Sabtu (10/03)

2 thoughts on “Peserta Workshop Video Pendek Buat Video Dengan 3 Teknik Dasar Menggunakan Ponsel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *