Momen Jumat pagi yang identik dengan kegiatan Jumat bersih dimanfaatkan oleh The Asoka Team Company, perusahaan siswa SMPN 40 untuk merealisasikan tantangan pertama Ecopreneur.  Disampaikan oleh Gerald Reyhan, siswa yang menjadi presiden direktur , terdapat tiga agenda kegiatan yang akan mereka kerjakan demi merealisasikan tantangan berdurasi dua minggu ini. Salah satunya adalah pengumpulan sampah anorganik yang layak jual, Jumat (09/03).

Menurut siswa kelas 8 ini, sebelumnya mereka sudah sosialisasi kepada seluruh siswa agar membawa kardus bekas maupun koran dari rumah. “Proses sosialisasinya sudah mulai senin kak, hari ini waktunya pengumpulannya. Jadi kardus bekas, koran dan kertas-kertas bekas yang ada di sekolah akan dijual kepada bank sampah induk Surabaya. Hasil penjualan sampah ini akan kami gunakan sebagai modal awal untuk membuat produk unggulan, teh asoka,” ucap Gerald.

Menariknya, pengumpulan sampah kardus, koran dan kertas bekas inipun mencapai hasil yang memuaskan.  Tidak kurang dari satu back mobil pick up terbuka siap untuk disetorkan ke bank sampah induk yang beralamat di Jalan Ngagel Timur Nomor 26. Agenda lainnya yakni tim produksi produk unggulan menyiapkan satu stand yang nantinya digunakan untuk menjual segala macam produk mulai dari kerajinan daur ulang dari tutup galon, teh asoka hingga produk lainnya.

Andajani, guru pembina lingkungan yang juga bertindak sebagai dewan komisaris, mengaku tim produksi akan membuka stand berjualan sejak awal. Target untuk mendapatkan hasil penjualan terbanyak menjadi bidikan utama pada program wirausaha lingkungan yang digelar sejak 2012. “Mulai dari spanduk perusahaan siswa, meja dan beberapa peralatan pendukung sudah disiapkan anak-anak. Jadi, setelah mendapatkan modal, mereka langsung tancap gas produksi teh asoka dan produk lainnya sekaligus membuat brosurnya,” jelas Andajani.

Agenda terakhir adalah panen kompos yang ada di dua alat pengomposan yakni keranjang ajaib atau kerap disebut keranjang komposter dan komposter bak dari tandon air bekas. Bukan kali pertama, si Cilung sebutan untuk kader lingkungan sekolah yang berlokasi di Jalan Bangkingan VIII Nomor 8 ini panen kompos besar. “Kalau biasanya kami panen kompos lalu, hasilnya lebih banyak digunakan sendiri untuk memupuk tanaman dan pohon yang ada di sekolah. Kali ini, produksi kompos harus lebih banyak dan sebagian hasil komposnya akan dijual,” ujar Reyhan, siswa kelas 8.

Rencana kedepan, pasca panen kompos mereka membuat agenda untuk melakukan aksi grebek pasar tradisional untuk mengisi kembali bak pengomposan. Dengan dimensi sebesar itu, tentunya volume sampah organik yang diisikan ke dalam tandon air bekas sangat banyak. Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, menyarankan agar tidak hanya diisi dengan sampah sayuran hasil grebek pasar saja, melainkan dicampur dengan sampah daun kering agar air sampah di sayuran terserap daun. (ryn)

Keterangan Foto : Tim produksi the Asoka Team perusahaan siswa SMPN 40 memanen kompos yang ada di media keranjang komposter dan media bak tandon air bekas kemudian merealisasikan tantangan ecopreneur untuk memenuhi media pengomposan yang kosong dengan sampah organik, Jumat (09/03)

One thought on “The Asoka Team SMPN 40 Panen Kompos dan Siapkan Stand Jualan Produk

  1. Apapun aktivitasnya jika dilakukan berdasarkan rumus bekerja dengan: ikhlaS, cerdaS, keraS, dan tuntaS. Insya Allah tidak akan ada yang sia-sia. Semua akan ada manfaatnya minimal untuk diri sendiri, syukur-syukur untuk sesama dan lingkungan sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *