Sampah dipandang selalu tidak bernilai dan bisa menjadi media penyebaran penyakit, namun tidak bagi kader lingkungan SDN Tanah Kalikedinding I yang terbiasa menjadikan sampah sebagai modal. Modal untuk berwirausaha ramah lingkungan dengan cara diolah ataupun dijual ke pengepul sampah. Pembiasaan memungut sampah setiap saat dan selesai waktu istirahat selalu juga menunjukan sekolah yang sering berlangganan juara Eco School dan Adiwiyata.

Eva Kurnia Sari, pembina Student company Arkensi dan Saepulloh, Kepala SDN Tanah Kalikedinding I sosialisasikan pentingnya mengolah sampah pada pekan pertama program wirausaha ramah lingkungan, Senin (5/3). “Olah sampahmu menjadi sesuatu yang lebih bernilai,” ujar Eva Kurnia Sari, pembina kader lingkungan Arkensi. Salah satunya mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos dan pemanfaatan sampah plastik atau botol menjadi pot tanaman.

Sementara itu, Saepulloh, kepala sekolah telah membentuk kepengurusan untuk program Ecopreneur di Arkensi Company. Anggotanya terdiri dari partisipasi siswa maupun guru. “Target-target dari perusahaannya sudah kami rumuskan seperti target menaikan produksi kompos, membuat produk olahan daun cincau dan membudidayakan tanaman likuanyu di lingkungan sekolah,” ujar Kepala sekolah yang gemar dengar kicauan burung dan budidaya ikan.

Semangat membuat dan menjadi produk olahan daun cincau sebagai produk olahan tidak hanya dari  kepala sekolah, tapi dari kader lingkungan Arkensi Company sendiri. Salah satunya dari Nayli Salwa Ainiyah, Vice President Arkensi Company yang menurutnya telah berpengalaman membuat dan memasarkan produknya selama 1 tahun terakhir. “Saya dan teman-teman biasanya menjual dengan harga Rp. 1.000 sampai dengan Rp. 3.000,” imbuhnya. Saat berjualan, es cincau dikemas menggunakan gelas yang bisa dipakai berulang kali untuk mengurangi sampah plastik.

Satuman, aktivis Tunas Hijau dan juga koordinator program Ecopreneur 2018 menyarankan untuk segera melakukan aksi grebek pasar agar bisa memenuhi komposter dengan sampah organik dan sekaligus keranjang komposter dengan sisa makanan. “Komposternya jangan dilupakan, karena Ecopreneur tidak hanya soal jualan tapi juga pengolahan sampah harus gencar,” terang aktivis berbadan bongsor. Karena tiap sekolah wajib mempunyai produk dari olahan sampah seperti pupuk kompos dan kerajinan tangan. (One)

Keterangan Foto : Salah satu Pembina kader lingkungan sekaligus komisaris Arkensi Company sedang mendiskusikan target perusahaan dan produk unggulan. Serta foto bersama seluruh anggota Arkensi Company 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *