Pelaksanaan Penilaian Tengah Semester (PTS) bukan menjadi halangan bagi kader lingkungan hidup SMPN 36 dalam menghadapi program Ecopreneur 2018. Hal ini dibuktikan dengan sepulang sekolah, mereka langsung merealisasikan salah satu poin tantangan pertama program wirausaha lingkungan yakni melakukan pemenuhan media pengomposan dengan sampah organik. Informasi tersebut didapatkan Tunas Hijau saat kunjungan mobil edukasi lingkungan hidup keliling, Selasa (06/03).

Dengan melibatkan kader lingkungan yang tergabung pada kelompok kerja sampah dan tim produksi Ecopreneur, berbekal karung glangsing sampah organik yang berserakan di halaman dan bagian belakang tidak luput dari wilayah pengumpulan mereka. Disampaikan oleh Sonia Rista Cahyasari, presiden direktur perusahaan siswa, mengaku meskipun sedang PTS, tetapi semangat mereka masih tinggi untuk menghadapai program yang sudah menginjak tahun kelimanya.

“Dalam waktu setengah jam mengumpulkan sampah organik, anak-anak sudah mendapatkan lebih dari dua glangsing sampah organik dedaunan. Dedaunan tersebut langsung kami isikan ke dalam tong bekas tandon air, kotak pengomposan dan beberapa tong komposter aerob,” ujar Sonia, siswa kelas 8. Praktis, selama pelaksanaan Penilaian Tengah Semester tidak banyak waktu yang dimiliki untuk merealisasikan ketujuh poin tantangan. Strateginya adalah mereka memilih bentuk tantangan yang mudah dikerjakan terlebih dahulu, seperti pengesahan target capaian Ecopreneur dan perusahaan siswa.

Perpustakaan lingkungan di Eco Mobile PJB menjadi salah satu tempat kader LH ataupun perusahaan siswa SMPN 36 mencari refrensi tentang pengelolaan lingkungan dan berwirausaha lingkungan saat kunjungan Eco Mobile PJB, Selasa (06/03)

Grebek pasar tradisionalpun direncanakan untuk digelar pada Sabtu agar mereka bisa optimal memanfaatkan media pengomposan untuk dijadikan kompos. “Setelah selesai PTS, kami akan tancap gas untuk melibatkan warga sekolah dalam aksi pengumpulan sampah dan minyak jelantah sebagai modal awal perusahaan kami. Akan tetapi, pekan ujian ini mereka gunakan untuk merencanakan target capaian Ecopreneur dan mengesahkan perusahaan siswa oleh kepala sekolah baru,” ujar Amanda Nadia, siswa kelas 8 yang menjadi koordinator produksi.

Pembagian tugas untuk tantangan membuat video blogger atau akrab disebut Vlog diserahkan kepada tim jurnalis. Sementara, tim produksi menyiapkan pembuatan produk unggulan sekolah yakni minuman teh daun tin dan beberapa produk olahan lainnya. Pratiwi Setiasih, guru penanggung jawab lingkungan, menghimbau perusahaan siswa sekolahnya untuk memprioritaskan pembuatan produk yang ramah lingkungan dan menggunakan bahan baku yang ada di sekolah dengan semaksimal mungkin. “Kalau bisa ya produk yang akan dibuat adalah produk olahan sampah seperti kerajinan daur ulang bernilai jual,” ucapnya.

Rencana kedepan, perusahaan siswa sekolah yang beralamatkan di Kebonsari Sekolahan Nomor 15 melakukan promosi melalui media sosial dan sosialisasi kepada kelas-kelas atau dalam kata lain melakukan penjualan langsung. Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau sekaligus operator Eco Mobile PJB, menyarankan kemasan produk yang ramah lingkungan. “Kalau bisa, produk olahan minuman ditempatkan pada wadah besar, siswa yang ingin membeli diharapkan untuk menggunakan botol minum mereka sendiri agar mengurangi plastik,” pungkasnya. (ryn)

Keterangan Foto : Kader LH yang tergabung dalam pokja sampah bersama tim produksi perusahaan siswa Ecopreneur SMPN 36 mengisi media pengomposan dengan sampah organik merealisasikan salah satu poin tantangan pertama Ecopreneur 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *