Program wirausaha lingkungan hidup Ecopreneur 2018 yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya dimulai pekan ini. Seperti yang telah disampaikan pada workshop pekan lalu, pada Ecopreneur 2018 ini challenge atau tema atau tantangan tidak lagi per pekan, melainkan per dua pekan.

Berikut ini adalah tantangan pertama Ecopreneur 2018 dengan masa realisasi 5 – 18 Maret 2018:

  1. Pengumpulan modal sebanyak-banyaknya dari sampah termasuk jelantah;
  2. Pengesahan struktur komisaris dan eksekutif Student Company tim sekolah;
  3. Pengesahan target Student Company;
  4. Pemenuhan semua komposter dan biopori dengan sampah organik;
  5. Grebek pasar tradisional;
  6. Pembuatan vlog atau video blog masing-masing realisasi aksi;
  7. Penjualan pertama.

Berbeda dari pelaksanaan wirausaha lingkungan hidup 6 tahun sebelumnya, pada Ecopreneur 2018 ini pengumpulan modal tidak hanya dari limbah padat atau sampah saja. “Pengumpulan modal juga termasuk dari jelantah atau minyak goreng bekas,” kata Aktivis Senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni.

Pengumpulan jelantah sekaligus sebagai upaya mengajak masyarakat agar tidak lagi membuang jelantahnya ke saluran air atau tanah. “Jelantah yang dibuang ke saluran air atau tanah hanya akan mencemari air dan tanah,” tutur Zamroni. Jelantah yang telah terkumpul selanjutnya dijual atau setor ke Bank Sampah Induk Surabaya dengan harga lebih dari 3000 rupiah untuk diolah menjadi biodiesel.

Bila ada pengomposan sampah organik yang sudah waktunya panen, maka komposnya bisa dipanen pada challenge I ini untuk selanjutnya dijual. “Yang dianggap sebagai modal hanyalah hasil segala aktifitas yang berhubungan dengan sampah pada 5 – 18 Maret 2018. Keuangan yang didapatkan sebelumnya dilarang diikutsertakan,” tambah Direktur Ecopreneur 2018 Satuman.

Untuk pengesahan struktur komisaris dan eksekutif student company masing-masing tim Ecopreneur 2018 sekolah harus dilakukan kepala sekolah. “Pengesahannya oleh kepala sekolah dengan ditandatangani dan distempel sekolah,” jelas Anggriyan Permana, aktivis senior Tunas Hijau.

Seluruh pejabat eksekutif perusahaan siswa adalah siswa. Sedangkan seluruh board commissioner atau dewan komisaris adalah kepala sekolah, guru, dan/atau orang tua siswa.

“Pejabat eksekutif sedikitnya terdiri dari seorang direktur utama atau president director, 1 orang vice president (VP) yang membawahi departemen produksi, 1 orang VP keuangan, dan 1 orang VP marketing,” tambah Anggriyan Permana.

Masing-masing VP selanjutnya bisa membawahi beberapa manajer dan staf. Departemen produksi adalah ujung tombak pengelolaan lingkungan hidup di sekolah. Efektifitas departemen produksi dalam melaksanakan tugasnya berarti tidak adanya sarana/prasarana atau kelompok kerja lingkungan hidup di sekolah yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik.

Untuk realisasi challenge target pencapaian itu terkait dengan jumlah sampah organik yang akan diolah, jumlah kompos yang akan dihasilkan, jumlah sampah kertas yang akan diolah, dan jumlah sampah non organik yang akan diolah.

“Target pencapaian Ecopreneur 2018 yang harus dibuat juga berisi target jumlah makanan minuman olahan tanaman di sekolah yang akan diproduksi, bazar yang akan digelar secara mandiri dan pendapatan,” terang Aktivis Senior Tunas Hijau Bram Azzaino.

Dokumentasi foto, artikel dan vlog atau video blog realisasi Challenge /Tantangan I Ecopreneur 2018 selanjutnya diunggah melalui instagram masing-masing dengan tag/tandai @tunashijauid plus menyertakan #ecopreneur2018 #tunashijauid #namastudentcompany #namasekolah. (ron)

5 thoughts on “Challenge I Ecopreneur 2018

  1. Tantangan periode 1 (satu) yang sangat menantang khususnya bagi tim jurnalis karena tidak hanya dituntut untuk sekedar beraksi nyata, menulis laporan atau artikel yang disertai dokumennya. Namun kali ini juga ditantang untuk membuat video atau vlog dari setiap kegiatan. Jadi makin dituntut untuk lebih banyak belajar teknologi informasi, baik bagi siswa maupun bagi guru pembinanya.
    “Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan”

  2. Luar Biasa tantagan pertama pada kegiatan ecopreneur kali ini, para sekolah yang tergabung dalam ecopreneur 2018 semua berlomba-lomba menjawab tantangan pertama ini dengan sebaik baiknya, tinggal kemauan yang kuat yang dapat menyelesaikan tantangan tersebut, sebanyak 30 sekolah baik negeri maupun swasta telah berpengalaman dalam kegiatan ini tentu punya strategi masing-masing.
    Dengankegiatan ini semestinya tidak dipandang hanya kalah menang, dapat jaura apa tidak, akan tetapi perubahan perilaku untuk senantiasa menjaga kelestarian lingkungan iniah yang semestinya yang menjadi pertimbangan.

    semoga dengan kegiatan ini semakin banyak generasi muda yang peduli terhadap lingkungan , bukan sekedar menjadi juara atau atau mendapatkan penghargaan, karena sebaik-baik pengahragaan adalah rasa ikhlas dalam melaksankan sesuatu, Usaha tak akan pernah ingkar janji.

    Salam bumi lestari
    Ecopreneur 2018 Arkensi Pasti Bisa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *