Lapangan milik SMPN 41 mendadak dipenuhi oleh minyak goreng bekas atau kerap disebut jelantah. Bukan tanpa alasan, umumnya minyak goreng bekas bagi masyarakat menjadi limbah yang sudah tidak bisa digunakan kembali. Lain halnya dengan yang dilakukan oleh sekolah Juara Surabaya Eco School 2017 ini. Mereka menggelar aksi pengumpulan minyak jelantah bekas dalam rangka memperingati Hari Lahan Basah Sedunia yang diperingati setiap tanggal 2 Februari lalu. Informasi tersebut disampaikan kepada Tunas Hijau saat menggelar kunjungan Eco Mobile PJB di sekolahnya, Rabu (14/02).

Disampaikan oleh Dwi Muryanti, guru pembina lingkungan bahwa sejak senin, sekolah mewajibkan setiap siswa membawa satu botol minyak jelantah untuk dikumpulkan secara bersama-sama. Keseluruhan minyak jelantah yang terkumpul akan diberikan kepada bank sampah pusat. “Setelah semuanya terkumpul, kami akan langsung membawanya ke bank sampah agar limbah rumah tangga ini bisa terolah dengan baik. Siapa tahu minyak jelantah juga memiliki nilai jual sehingga kami mendapat keuntungan,” ujar Dwi.

Hanifa, kepala SMPN 41 menambahkan bahwa limbah rumah tangga ini pasti sangat mudah didapatkan oleh siswanya, selain karena setiap rumah tangga pasti ada karena merupakan sisa proses memasak, minyak jelantah juga dimiliki oleh pedagang-pedagang kaki lima khususnya penjual gorengan. “Kalau anak-anak berusaha pasti mudah mendapatkannya, yang mereka perlu lakukan hanyalah bertanya dan menyiapkan wadah botol bekas untuk menampungnya,” ujar Hanifa. Alasan memilih aksi ini karena limbah minyak jelantah yang begitu mudah ditemukan ini acap kali dilupakan untuk diolah.

Sementara itu, menariknya tidak semua minyak jelantah yang terkumpul merupakan minyak jelantah yang benar-benar minyak bekas, beberapa siswa terlihat membawa botol berisikan minyak baru. Hal ini membuat Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau sekaligus operator mobil edukasi lingkungan menyarankan agar kader lingkungan melakukan penyortiran. “Kalian perlu memisahkan antara minyak jelantah dan minyak baru. Karena, ketika sudah dibawa ke bank sampah, akan berbeda nilainya karena minyak baru ini masih bisa untuk dijual kembali,” saran Anggriyan sembari tertawa.

Pada kunjungan kali ini, Tunas Hijau mengajak kader lingkungan sekolah yang berada di Jalan Gembong Sekolahan nomor 5 untuk memaparkan perkembangan programnya. Terbagi menjadi beberapa kelompok kerja, diantaranya pokja makanan, air, keanekaragaman hayati, sampah, komposter, energi dan daur ulang. Melissa, salah seorang siswa kelas 8 mengatakan saat ini mereka masih berkelanjutan melakukan pengomposan dan melakukan pengawasan terhadap program membawa tempat makan dan botol minum untuk pengurangan sampah plastik.

Siswa yang tergabung dalam pokja energi sekaligus ketua OSIS ini menambahkan bahwa saat ini, sekolah mempersiapkan untuk pembibitan tanaman jahe. Tanaman jahe tersebut disiapkan untuk menyambut program Ecopreneur dengan membuat produk unggulan berbahan jahe. “Kami ingin mempersiapkan ecopreneur dengan rencana membuat produk seperti permen jahe, sirup jahe dan produk unggulan lainnya,” ucap Meliisa.  (ryn)

Keterangan Foto : Aksi pengumpulan minyak goreng bekas atau jelantah yang dilakukan oleh seluruh warga SMPN 41 untuk memperingati hari Lahan Basah Seduni pada 2 Februari lalu saat Eco Mobile PJB mengunjungi sekolahnya, Rabu (14/02).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *