Pembangunan gedung baru membuat kader lingkungan hidup SMPN 15 praktis belum bisa mengoptimalkan seluruh potensi lingkungan yang dimiliki oleh sekolahnya. Praktis, potensi lingkungan yang dikembangkan adalah pengolahan sampah organik menjadi kompos. Sebelum adanya pembangunan, mereka memanfaatkan beberapa tong komposter untuk mengolah sampah dedaunan yang banyak diproduksi di sekolah. Kini, mereka hanya mengandalkan satu tong komposter untuk mengolahnya  menjadi kompos.

Informasi tersebut disampaikan oleh Kisminah, guru pembina lingkungan kepada Tunas Hijau saat mengadakan pembinaan sekaligus kunjungan mobil edukasi lingkungan hidup keliling Eco Mobile PJB, Rabu (14/02). “Karena adanya pembangunan gedung ini beberapa tong komposter tidak bisa lagi digunakan karena tertimpa matrial bahan bangunan. Jadi sekarang ya anak-anak hanya fokus mengolah satu tong saja. Setiap pulang sekolah, mereka menyisihkan waktu untuk mengumpulkan sampah organik untuk diolah,” ujar Kisminah.

Tidak hanya pengomposan, rencana pengelolaan lingkungan juga disampaikan oleh Elly Dwi Pudjiastuti, kepala SMPN 15, yang mengatakan dirinya mempunyai fokus utama untuk pembenahan lingkungan sekolah barunya. Yakni, pembenahan kantin yang sebelum kedatangannya dinilai masih menjual makanan kurang sehat karena masih menggunakan kemasan plastik. “Langkah awal ya benahi kantin, sekarang masih dalam proses pembangunan kantin baru, setelah itu mereka akan saya minta untuk pindah sekaligus membuat perjanjian untuk tidak menjual makanan dengan bungkus plastik,” ucapnya.

Secara perlahan mantan kepala SMPN 23 ini juga sudah menyiapkan taman TOGA yang rencananya dimanfaatkan untuk budidaya tanaman TOGA agar saat panen, hasil tanamannya bisa diolah menjadi minuman olahan yang sehat. “Kami juga mempunyai beberapa pohon sukun dan nangka yang saat ini sudah bisa diolah menjadi produk es krim dan sudah dijual kepada warga sekolah,” ujar Elly. Produk unggulan berupa es krim ini yang nantinya akan menjadi produk andalan menyambut program lingkungan Ecopreneur.

Sementara itu, Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau yang juga operator Eco Mobile PJB menjelaskan skema dasar dari program Ecopreneur atau wirausaha berbasis lingkungan. Menurutnya, ada beberapa faktor kunci untuk bisa memahami jalannya program yang sudah berjalan selama 5 tahun ini. “Beberapa faktor tersebut adalah modal awal, produk yang berasal dari potensi, cara pemasaran produk, kemasan produk yang ramah lingkungan, media promosi yang akan digunakan dan jurnalis atau konten creator yang nantinya mempublikasikan segala macam aktivitas kalian,” ujar Anggriyan.

Target kedepan selama dua minggu ini, mereka akan mempersiapkan diri dengan membentuk tim, mencari sebanyak-banyaknya ide untuk produk ecopreneur dan terus mengembangkan pengomposan agar bisa segera dipanen hasilnya. Disampaikan oleh Zainal Ali, salah seorang siswa kelas 8, mereka perlu menambah jumlah aksi nyata selain pengomposan dan pengurangan sampah plastik kemasan. Kami berencana untuk menggelar aksi pemilahan sampah secara serempak, melakukan grebek pasar agar satu tong komposter cepat terpenuhi,” ucap Zainal, siswa yang juga ketua kader lingkungan. (ryn)

Keterangan Foto : Anggriyan Permana, aktivis Tunas HIjau sekaligus operator Eco Mobile PJB menjelaskan skema dasar dari program Ecopreneur kepada kader LH SMPN 15, Rabu (14/02).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *