Kantin sekolah merupakan sumber sampah organik sisa makanan yang bisa dijadikan sebagai tempat jujukan saat mengoptimalkan pengomposan dengan menggunakan keranjang komposter. Kekuatan itu yang tampaknya dilihat oleh kader lingkungan SMPN 5 agar bisa menggalakkan kembali program yang lama tidak pernah bisa mencapai target panen. Dari total 6 keranjang komposter yang dimiliki, tiga keranjang pertama dijadikan sebagai proyek pembuktian mereka dengan target panen. Informasi tersebut disampaikan kepada Tunas Hijau saat kunjungan Eco Mobile PJB di sekolahnya, Jumat (09/10).

Nadia Dzanuba, salah seorang kader lingkungan, mengatakan bahwa salah satu yang menjadi kendala dalam pencapaian target panen mereka adalah waktu pengisian hanya dilakukan setiap satu minggu sekali, di hari Jumat. “Ya anak-anak terbiasa untuk mengisi keranjang komposter ini satu minggu sekali kak, jadi setelah Jumat Bersih biasanya mereka menuju ke kantin-kantin untuk mengambil sisa makanan dari petugas kantin,” ucap Nadia siswa kelas 8. Melihat permasalahan tersebut, Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau menyarankan agar dibuat piket bergantian mengisi selama satu minggu.

Foto Kader LH SMPN 38 pasca kunjungan Eco Mobile PJB ke sekolah dengan agenda pengomptimalan pengomposan keranjang komposter

Piket bergantian yang dimaksudkan adalah menjadikan pengisian keranjang komposter  agenda rutin satu hingga dua hari sekali. “Kalau kalian hanya seminggu sekali ya kondisi kompos yang ada di keranjang bakteri pengurainya mati karena starternya jadi dingin. Alasan diisi setiap dua hari sekali, selain mengurangi sampah organik di kantin, sekaligus menjaga agar kondisi di dalam keranjang tetap hangat, karena dengan begitu bakteri di dalamnya bisa mengolah sampahnya,” ujarnya. Operator Eco Mobile PJB ini mengajak mereka untuk memberi satu tempat sampah khusus sampah organik.

Rencananya, demi mengoptimalkan peran pengomposan keranjang komposter, kader lingkungan sekolah yang berlokasi di Jalan Rajawali nomor 57 ini akan menyediakan tempat sampah khusus sampah organik, agar saat selesai istirahat mereka bisa dengan mudah mengambilnya tanpa perlu melakukan pemilahan sampah lagi. “Kami akan menyiapkan wadah ember bekas atau kaleng cat sebagai tempatnya, tadi saat mengisi keranjang kompos masih ada yang jijik karena sampah yang berasal dari kantin tidak dipisahkan,” ujar Nur Abidah, salah seorang kader lingkungan Hidup kelas 8.

Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau sekaligus operator Eco Mobile PJB memberikan saran kepada kader LH SMPN 5 untuk menyediakan tempat tersendiri sebagai wadah sampah organik untuk diolah di keranjang komposter

Bukan hanya keranjang komposter yang menarik perhatian dari aktivis lingkungan yang juga mahasiswa Ilmu Komunikasi ini. Adanya instalasi media tanam hidroponik di depan aula dengan ukuran yang besar menjadikannya sebagai media pembelajaran tersendiri untuk dibagikan. Kondisi bibit tanaman sayur sawi yang rata-rata masih berdaun tiga membuat Tunas Hijau menyarankan agar diperhatikan dengan ekstra. “Kalau bibit tanaman kalian masih berumur dua daun atau tiga daun, cukup diberi air biasa saja, baru kalau sudah berumur 4 daun, kalian beri nutrisinya,” ujar Anggriyan.

Menurut Suharmi, guru pembina lingkungan, fokus pengembangan program lingkungan sekolah untuk tahun ini diarahkan kepada inovasi media tanam seperti hidroponik ini. Tanaman sawi dan juga instalasinya ini baru berusia satu minggu. “Harapannya nanti, setiap kelas akan diajak untuk mengadopsi satu media hidroponik mulai dari menyemai, memindahkan bibit baru hingga melakukan perawatan menjadi tumbuh dan siap panen dalam waktu 2 bulan. Nanti, kalau kami sudah waktunya panen raya, Tunas Hijau akan kami undang,” ujarnya. (ryn)

Keterangan Foto : Kader LH SMPN 5 foto bersama mengelilingi media tanam mereka yang baru yakni hidroponik dengan usia satu minggu saat kunjungan Eco Mobile PJB di sekolahnya, Jumat (09/02).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *