Pembiasaan lingkungan dengan melibatkan warga sekolah menjadi salah satu program wajib yang harus dimiliki oleh sekolah. Seperti yang dilakukan oleh SMPN 38 dengan program DUMENBURSA (Dua Menit Berburu Sampah) dilakukan setiap hari setelah selesai istirahat. Informasi tersebut diterima oleh Tunas Hijau saat menggelar pembinaan dan kunjungan mobil edukasi lingkungan hidup keliling, Jumat (09/02). Kegiatan yang mengajak warga sekolahnya untuk berburu sampah nonorganic yang ada di lingkungan sekolah untuk dibuang ditempat sampah ini merupakan program lama yang masih berjalan.

Sayangnya, program lingkungan yang memanfaatkan sarana lingkungan sekolah hanya tinggal pengomposan tong komposter. Seperti yang disampaikan oleh Bagus Ramadhan, ketua kader lingkungan, sampai saat ini program lingkungan yang masih berkelanjutan dikelola adalah pengomposan tong yang ada di depan panel surya dan sebelah pagar. “Ya apalagi yang bisa kami lakukan kak, pengomposan ini menjadi program mudah untuk dilakukan tidak memerlukan ijin, biaya dan partisipasi banyak orang. Cukup beberapa orang, lalu penuhi dengan sampah organik,” ujar Bagus, siswa kelas 8.

Dengan menggunakan mini theatre Eco Mobile PJB, kunjungan ke SMPN 38 diawali dengan menebak gambar sebagai salah satu bagian ice breaking kegiatan

Ketua OSIS yang juga menjabat sebagai ketua organisasi pelajar di Surabaya ini menceritakan bahwa pengisian tong komposter ini dilakukan setiap satu minggu sekali. Memanfaatkan banyaknya sampah dedaunan dari lingkungan sekolah untuk diolah didalamnya. “Selain dari anak-anak OSIS yang mengolahnya setiap satu minggu sekali, kami juga meminta bantuan dari penjaga sekolah agar saat membersihakan sampah dedaunan tidak dibuang begitu saja, melainkan langsung dimasukkan ke dalam tong komposter kak,” terangnya.

Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau sekaligus operator Eco Mobile PJB menyarankan agar pengomposan yang dikelola mereka cepat membusuk perlu ditambahkan larutan untuk percepatan pengomposan. “Kalian bisa tambahkan air cucian beras setelah pengisian tong komposter dan proses pengadukan agar bakteri pada air cucian beras bisa membantu proses penguraian sampah organiknya,” saran Anggriyan. Aktivis yang juga mahasiswa Komunikasi ini menyarankan tidak hanya fokus pada tong komposter saja, melainkan keranjang komposter juga yang sudah lama macet.

Mahmud, guru pembina lingkungan sekolah yang berlokasi di Jalan Kutilang nomor 9 – 11 ini mengaku adanya penurunan antusias warga sekolah terhadap program lingkungan di sekolahnya. Gejala ini mulai terlihat saat masuknya kembali plastik kemasan dari kantin sekolah meskipun hanya sedikit, tetapi penyumbang terbanyak berasal dari luar sekolah. “Kali ini praktis hanya program seperti Jumat Bersih, DUMENBURSA dan pengomposan saja yang masih berjalan kak, semoga kedepannya antusias anak-anak menjadi lebih besar setelah kunjungan Eco Mobile PJB ini,” ucap Mahmud. (ryn)

Keterangan Foto : Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau sekaligus operator Eco Mobile PJB menyarankan kepada kader LH SMPN 38 untuk menambahkan air cucian beras agar proses pengomposan di tong komposter lebih cepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *