Pengolahan sampah organik menjadi kompos sepertinya menjadi program andalan dari kader lingkungan SMPN 36 yang terlihat hasilnya. Terletak di lahan belakang sekolah, jauh dari ruang kelas dan pusat kegiatan sekolah menjadi keuntungan tersendiri saat mengolah sampah organik yang dihasilkan. Aroma bau yang dikeluarkan sampah organik yang khas seperti bau dedaunan, sampah sayur tidak menyebar tercium hingga kelas-kelas. Informasi tersebut disampaikan Pratiwi Setiasih, guru pembina lingkungan kepada Tunas Hijau saat kunjungan Eco Mobile PJB, Kamis (08/02).

Menurut mantan guru urusan kesiswaan ini, pengomposan memang menjadi unggulan mereka karena kekuatannya terletak pada banyaknya media pengomposan yang dipakai untuk mengolah sampah organik yang ada di sekolah. “Ada sedikitnya 3 metode pengomposan yakni dengan menggunakan tong komposter, kotak komposter berukuran 3 x 4 meter dan bekas tandon air yang dijadikan pengomposan. Semuanya sudah terisi dengan sampah organik dedaunan dari lingkungan sekolah, penjaga sekolah kami libatkan untuk mengisinya juga,” ujar Pratiwi.

Dari ketiga metode pengomposan yang sudah dikelola selama hampir 3 bulan, kunjungan mobil edukasi lingkungan hidup keliling Eco Mobile PJB bertepatan dengan waktu panen kompos mereka. Sonia Rista, salah seorang siswa kelas 8 mengatakan bahwa panen kompos yang diambil ini dari kotak pengomposan berukuran besar. “Kompos yang sudah kami panen ini hanya berasal dari satu tempat pengomposan saja kak, belum tong komposter ataupun bekas tandon air ini. Nantinya, kompos ini akan kami kemas kemudian dijual kepada guru-guru,” ujar Sonia, siswa kelas 8A.

Kader LH SMPN 36 mengemas pupuk kompos hasil panen di kotak pengomposan untuk segera dijual kepada guru-guru yang sebelumnya sudah memesan

Sayangnya kedatangan Tunas Hijau juga disambut dengan guyuran hujan yang membuat hasil kompos panenan menjadi basah. Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau sekaligus operator Eco Mobile PJB menyarankan agar kompos yang basah terkena air hujan dijemur agar berat komposnya terpisah dengan berat air. “Kalau bisa setelah hujan reda baru diangin-anginkan sampai kering komposnya, karena kalau kompos basah malah susah untuk digunakan,” saran Anggriyan. Kompos yang sudah diangin-anginkan akan dikemas per 5 kg untuk dijual.

Setyowati, kepala sekolah yang berlokasi di Jalan Kebonsari Sekolahan ini mendukung setiap kegiatan lingkungan yang dijalankan oleh tim lingkungan. Mantan kepala SMPN 49 ini mempunyai rencana jangka Panjang untuk diterapkan di sekolah barunya. Seperti memanfaatkan lahan kosong yang sekarang menjadi urukan gragal dijadikan tempat menanam sayuran dan TOGA. “Saat ini saya ingin untuk memanfatakan tanah urukan gragal jadi urban farming, saya akan minta bantuan dari DInas PU untuk tanah taman, setelah itu DKRTH untuk tambahan komposnya,” jelas Setyowati.

Diakhir pembinaan, kader lingkungan memberikan pupuk kompos hasil panen kepada kepala sekolah baru secara simbolis agar mendukung secara nyata kegiatan lingkungan yang mereka rencanakan. Mereka berencana untuk menambah jumlah lubang resapan biopori di lingkungan sekolah. “Kami ingin menambah jumlah bioporinya kak, karena kalau hujan masih ada genangan air di beberapa titik. Makanya kami ingin menambahnya agar air hujan bisa meresap ke permukaan tanah kak,” ujar Amanda Nadia, siswa kelas 8 yang juga kader lingkungan. (ryn)

Keterangan Foto : Kader Lingkungan SMPN 36 menyerahkan secara simbolis pupuk kompos hasil panen dari prorgram pengomposan yang sudah dikelola mereka bersama dengan Eco Mobile PJB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *