Sampah kemasan plastik sekali pakai menjadi permasalahan lingkungan yang dibahas oleh Tunas Hijau dihadapan puluhan orang siswa kelas 2 dan 4 SDN Airlangga I. Plastik es dan sedotan menjadi sampah yang paling banyak dihasilkan di sekolah, setiap satu orang siswa kelas 4 menghasilkan kurang lebih 5 plastik es dan sedotan setiap harinya. Informasi tersebut disampaikan kepada Tunas Hijau saat menggelar pembinaan dan kunjungan Mobil Edukasi Lingkungan Hidup Keliling Eco Mobile PJB, Rabu (07/02).

Dari banyaknya jumlah sampah yang dihasilkan oleh setiap orang siswa setiap hari, didukung dengan penjaga kantin yang menjual minuman masih menggunakan plastik es dan sedotan. Bukan hanya plastik es dan sedotan saja, mirisnya jajanan mie gelaspun benar-benar disajikan di dalam gelas plastik dengan lidi sebagai sumpitnya. Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau benar-benar menyayangkan sikap dari petugas kantin yang tidak mempedulikan dampak bagi kesehatan dan lingkungan.

“Kalian tahu tidak, di dalam gelas plastik ini  terdapat zat kimia yang merupakan bahan pembuat plastik. Kalau makanan seperti mie gelas ini disajikan di gelas plastik dan dalam kondisi panas, maka akibatnya zat kimianya keluar, memuai masuk ke makanan mi gelas kalian. Jadi sama saja kalau kalian pelan-pelan nabung penyakit kanker,” jelas Anggriyan. Untungnya, adanya permasalahan tersebut membuat Shanti Sri Rejeki, guru pembina lingkungan tidak bisa berpangku tangan, sehingga mempunyai beberapa aksi solutif.

Menggunakan media Mini Theatre, Tunas Hijau menyampaikan bahaya penggunaan kemasan bungkus plastik sekali pakai bagi manusia dan hewan dalam kunjungan Eco Mobile PJB di SDN Airlangga I, Rabu (07/02)

Guru pengajar kelas 1 ini mengajak siswa kelas 5 dan 6 untuk menjadi pilot project dari programnya yakni membawa tempat makan dan botol minun sendiri setiap hari. “Dengan adanya permasalahan banyaknya sampah plastik yang dihasilkan dari kantin dan pedagang di luar sekolah, maka saya mengajak anak-anak kelas saya, siswa kelas 5 dan 6 untuk membawa tepak makan dan botol minum yang berulang kali pakai. Setelah mereka berhasil berlanjut membawanya, saya akan ajak siswa di kelas yang lain juga mulai dari kelas bawah,” terang Shanti.

Pada kunjungan Eco Mobile PJB kali ini, aktivis yang juga mahasiswa Ilmu Komunikasi ini mengajak siswa kelas 2 dan 4 melakukan aksi serbu sampah plastik. Dengan menggunakan satu bak tempat sampah sebagai tempat pembuangannya, Anggriyan mengajak mereka untuk mengambil sampah plastik atau anorganik saja. “Ayo kita adakan aksi serbu sampah plastik, dimana kalian harus mengumpulkan sampah plastik yang berserakan di halaman sekolah, menghitungnya lalu membuangnya ke tempat sampah ini,” ujar Riyan, sapaan akrab aktivis ini.

Kurang dari satu jam, sebanyak lebih dari 127 sampah plastik mulai dari sampah plastik es, sedotan, kantong kresek, gelas dan botol plastik hingga plastik bungkus jajan. Dominasi paling banyak dihasilkan oleh plastik es dan sedotan serta gelas plastik. Disisi lain, upaya peduli lingkungan sekolah yang berada di sebelah Kecamatan Gubeng ini mengolah sampah organik sisa makanan menggunakan keranjang komposter. Delapan buah keranjang dioptimalkan untuk mengolah sampah sisa makanan, setiap harinya siswa kelas 5 dan 6 bertugas bergantian untuk merawatnya. Hasilnya, hingga saat ini  mereka sudah merasakan dua kali panen pupuk kompos sendiri. (ryn)

Keterangan Foto : Siswa kelas 2 dan 4 SDN Airlangga I menggelar aksi serbu sampah plastik saat pembinaan dan kunjungan Eco Mobile PJB di sekolahnya, Rabu (07/02) sebagai bagian dari aksi nyata pengurangan sampah plastik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *