Video lingkungan yang menceritakan hewan bersel satu plankton memakan partikel-partikel plastik yang tidak bisa hancur terurai menjadi awal pemicu pesan lingkungan kepada kader Lingkungan Hidup SMPN 19. Dikaitkan dengan fakta bahwa plastik yang sudah bercampur dengan tanah tidak akan bisa hancur terurai selama lebih dari 100 tahun, Tunas Hijau mengajak siswa kelas 7 dan 8 ini memikirkan satu bentuk kegiatan untuk menyikapi permasalahan lingkungan di sekolahnya saat ada pembinaan dan kunjungan mobil edukasi lingkungan hidup keliling Eco Mobile PJB, Rabu (07/02).

Bukan tanpa alasan, setiap tangga 21 Februari merupakan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang dilakukan serentak sekolah-sekolah peduli lingkungan lainnya. Sebagai salah satu pemicunya, Tunas Hijau akan menggelar aksi bersih-bersih Pantai Kenjeran di tanggal 24 Februari mendatang. Menyambut peringatan tersebut, Anggriyan Permana, aktivis sekaligus mahasiswa Ilmu Komunikasi ini memberikan tantangan kepada mereka untuk membuat aksi peduli lingkungan. Beragam ide yang mereka miiki bisa dijadikan alternatif atau pilihan kegiatan pada puncak peringatannya.

Beberapa ide kegiatan lingkungan pada puncak peringatan Hari Sampah Nasional diantaranya adalah membuat sebuah peragaan busana atau istilah lain dari fashion Show daur ulang sampah. Fashion Show tersebut rencananya akan dilombakan di setiap kelas, mengadakan lomba fotografi bertema sampah untuk warga sekolah dan mengadakan lomba poster bertema sampah dengan mengundang siswa SD dari sekolah lain. Disampaikan oleh Tessa Lonika, siswa kelas 7H ini bahwa nantinya hasil fotografi dari setiap kelas akan dipamerkan saat lomba poster SD.

Pengecekan tong komposter milik SMPN 19 yang setiap satu minggu sekali selalu diisi dengan sampah organik, untuk mempercepat prosesnya Tunas Hijau menyarankan diberi air cucian beras

“Jadi kami mempunyai ide untuk membuat lomba fotografi untuk warga SMPN 19 dan lomba poster untuk anak SD dengan mengundang sekolah-sekolah sekitar untuk berpartisipasi. Karya fotografi perwakilan kelas pun akan dipamerkan. Menariknya, frame atau bingkai yang digunakan untuk pameran harus terbuat dari bahan daur ulang mengolah sampah non organik,” terang Tessa, perwakilan MPK sekaligus koordinator kegiatan. Hasil rencana kegiatan yang disusun ini langsung disampaikan kepada guru pembina untuk bisa mendapatkan persetujuan.

Sementara itu, selain mengajak mereka untuk membuat kegiatan lingkungan peringatan Hari Sampah, Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, ingin melihat perkembangan program pengomposan sekolah yang terletak di Jalan Arief Rachman Hakim. Dengan menggunakan media tong dan keranjang komposter, pengomposan mereka terlhat masih memproses sampah organik yang setiap minggunya rutin ditambahkan. “Kalau rutin ditambahkan terus sampah organiknya, kalian perlu sesuatu untuk mempercepat pengomposan agar panen komposnya cepat,” ujarnya.

Sesuatu yang dimaksudkan adalah dengan menambahkan air cucian beras untuk dimasukkan ke dalam tong komposter maupun keranjang komposter. “Air cucian beras yang memiliki bakteri akan mempercepat proses pengomposannya karena bakteri yang ada di dalamnya bertambah. Sedangkan untuk mengolah sampah organik di keranjang komposter harus rela repot untuk mengganti wadah kardus setiap dua minggu sekali, karena kardus mudah sekali hancur,” jelas Anggriyan. (ryn)

Keterangan Foto : Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau sekaligus operator eco Mobile PJB mengajak kader LH SMPN 19 untuk mengadakan kegiatan untuk peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang diperingati setiap tanggal 21 Februari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *