Program lingkugan yang sudah dijalankan di sekolah ada kalanya bisa berjalan dengan baik ada pula hanya berjalan seadanya bahkan ada yang macet. Kendalanya pun beragam, mulai dari kendornya semangat kader lingkungan hidup untuk terus menjalankan programnya, berubahnya pimpinan yang turut mengubah kebijakan lingkungan di sekolah. Situasi tersebut yang ditemui Tunas Hijau saat menggelar pembinaan dan kunjungan Eco Mobile PJB di SMPN 9, Selasa (06/02). Salah satu yang menjadi perhatian saat pembinaan adalah program pengomposan.

Sekolah yang berada di jalan Taman Putro Agung ini memiliki beberapa macam cara pengomposan diantaranya adalah kotak komposter di belakang ruang guru, keranjang dan tong komposter. Dari keempat cara pengomposan yang dilakukan oleh kader LH, semua media pengomposan terlihat masih kosong hanya sebagian kecil sudah terisi. Lady Marsella, siswa kelas 8 ini menjelaskan bahwa kader LH yang tergabung pada kelompok kerja kompos sudah diingatkan untuk mengisi media pengomposan yang ada kak, tetapi mereka hanya fokus pada tong komposter itupun ngisinya sedikit,” ujar Marsella.

Permasalahan tersebut disikapi oleh Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau dengan menyarankan rutinitas melakukan kegiatan grebek pasar dan mengumpulkan sampah dedaunan yang banyak dihasilkan di lingkungan sekolah. “Ya kalau bisa, kalian harus mengoptimalkan media pengomposan kalian yang harusnya bisa mengolah sampah organik dalam jumlah banyak. Sayangnya, sekarang saya lihat masih kosong. Jadi ya harus segera dimulai untuk Menuhin pengomposannya,” ujar Anggriyan.

Tidak hanya itu, program lingkungan yang lain yang sebelumnya sudah berjalan seperti pengurangan kemasan plastik di kantin dan di sekolah dengan menerapkan setiap siswa membawa tempat makan dan botol sendiri, saat ini tampaknya kurang pengawasan. Hal ini terlihat saat Tunas Hijau melewati kantin sekolah yang terlihat masih ada sampah berserakan. Disampaikan oleh Eka Sapta, salah seorang siswa kelas 8, bahwa sejak adanya pergantian pimpinan, pengawasan terhadap aktivitas kantin sekolah menjadi melemah.

“Akibatnya ya seperti ini kak, di kantin masih bisa didapati ada sampah yang dibuang sembarangan oleh anak-anak meskipun di sekitarnya ada tempat sampah. Tidak hanya di kantin, di saluran air pun masih bisa ditemui hal tersebut. Padahal oleh pimpinan sebelumnya, setiap paginya selalu kontrol keliling sekolah untuk masalah sampah,” ujar Eka. Sementara itu, sedikit harapan akan program lingkungan yang berjalanpun disampaikan kepada Tunas Hijau yakni saat mereka menyiapkan produk unggulan untuk program lingkungan berbasis wirausaha Ecopreneur.

Guna mempersiapkan diri mengikuti Ecopreneur, mereka sudah menyiapkan beberapa produk yang menjadi unggulan yakni sinom, pudding cincau dan teh kamboja. “Ketiga produk ini yang bahan bakunya paling banyak bisa didapatkan di sekolah kak. Selain itu, untuk permasalahan kemasan, ketiga produk unggulan ini sudah menggukana kemasan ramah lingkungan yakni papper cup atau gelas kertas kak,” ujar Marsella. Kedepan, mereka ingin membenahi perencanaan target dan pemasaran produknya. (ryn)

Keterangan Foto : Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau sekaigus Operator Eco Mobile PJB memberikan saran untuk pengembangan program lingkungan agar terus berjalan adalah pembagian fungsi dan kerja setiap bagian program dan keberlanjutan aksi nyata di setiap program lingkungan yang sudah direncanakannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *