Ratusan siswa kelas 4 SDN Rangkah VI Surabaya saling berebut untuk mencari tiga jenis sampah yakni sampah gelas atau botol plastik, sampah kantong kresek dan jenis sampah yang ketiga adalah plastik es dan sedotan. Suasana tersebut tersaji saat Tunas Hijau menggelar pembinaan dan kunjungan mobil edukasi lingkungan hidup keliling Eco Mobile PJB di sekolahnya, Selasa (06/02). Dalam kunjungannya, Tunas Hijau mengajak mereka untuk melakukan aksi operasi sampah plastik karena melihat permasalahan terbesar di sekolahnya adalah sampah plastik.

Lokasi sekolah yang masih merupakan sekolah satu atap dengan SDN Rangkah VII, membuat Shinta Rahmawati, guru pembina lingkungan SDN Rangkah VI mengatakan dirinya bersama guru-guru lain sudah berupaya untuk melakukan pengurangan kemasan plastik sekali pakai dengan mengajak murid-murid di kelasnya untuk menggunakan botol minum dan tempat makan sendiri setiap harinya. “Tidak bisa dipungkiri kak, kami sudah mengajak anak-anak kami untuk membawa botol sendiri, meskipun hanya dimulai dari seluruh siswa kelas 4, 5 dan 6 dulu,” ujar Shinta.

Siswa kelas 4 SDN Rangkah VI diajak untuk melakukan pemilahan dan penghitungan sampah dari jenis plastik kresek, plastik botol atau gelas plastik dan terakhir adalah plastik es dan sedotan. Hasilnya sampah plastik es menjadi sampah yang paling banyak dihasilkan

Terletak di satu lokasi gedung yang sama membuat volume sampah yang dihasilkan pun meningkat pesat dan tidak bisa terlacak siswa dari sekolah mana yang membuang sampah plastik di tempat sampah milik sekolah mana. Anggriyan Permana, aktivis senior Tunas Hijau menyarankan untuk sekolah yang terletak di Jalan Kapas Krampung ini untuk melakukan aksi grebek sampah plastik yang ada di lingkungan sekolah setiap selesai istirahat dan sebelum pulang.  “Kalau nurutin egois dicari siapa yang salah ya tidak bakal selesai, jadi ya yang benar ya buat aja grebek plastik tidak perlu tahu itu sampah siapa,” ujarnya.

Dengan menggunakan tiga tong tempat sampah, Anggriyan aktivis senior ini mengajak mereka memilah sampah yang sudah mereka kumpulkan menjadi tiga jenis sesuai tema tadi. Yakni  sampah plastik kresek, plastik es dan sedotan dan gelas atau botol plastik. Menurut Chintya Dwi, salah seorang siswa kelas 4, dari sampah yang sudah terkumpul, sebanyak 10 bungkus kanting kresek, 95 botol atau gelas plastik dan 115 plastik es atau bungkus plastik bening, sedangkan sedotannya ada 35 buah kak,” ujar Chintya, ketua kelas 4C.

Sementara itu, Salmah Putri, salah seorang siswa kelas 5 mengatakan bahwa sampah yang terhitung sudah banyak dan belum termasuk sampah jenis lain seperti bungkus jajan, mika dan beberapa bungkus plastik lainnya. “Dengan jumlah sampah yang sebanyak itu, oleh guru-guru kami diarahkan untuk membawa tempat makan dan botol minum sendiri. Kalau tidak punya tempat makan bisa membawa piring atau gelas kak. Jadi setiap istirahat anak-anak diwajibkan membeli jajan di kantin dengan piring atau gelas yang dibawa itu kak,” imbuh Putri.

Pasca aksi pemilahan dan penghitungan jumlah sampah, memanfaatkan mini theatre dari Eco Mobile PJB, aktivis yang juga mahasiswa ilmu komunikasi ini menjelaskn alasan sampah plastik tidak boleh dibuang sembarangan dan harus diolah bukan saja selesai perkara setelah dibuang. “Salah satu alasan kenapa plastik berbahaya adalah plastik tidak bisa hancur dan terurai selama lebih dari ratusan tahun. Selain itu, ketika terbuang dilautan, hewan laut akan menjadi terancam hidupnya. Salah satu contohnya adalah burung Albatros ini yang didalam tubuhnya terdaoat banyak plastik,” ujar RIyan. (ryn)

Keterangan Foto : Anggriyan Permana, aktivis Tunas HIjau menjelaskan tentang bahaya penggunaan kemasan plastik sekali pakai terhadap kesehatan dan plastik juga dapat merusak lingkungan dihadapan puluhan orang siswa SDN Rangkah VI bersama Eco Mobile PJB, Selasa (06/02).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *