Sebanyak 300 bibit tanaman mangrove siap ditanam oleh 125 orang siswa dan guru SMPN 41 bersama dengan 4 sekolah dasar imbas. Keempat sekolah yang dilibatkan dalam kegiatan menanam mangrove adalah SDN Kapasan III, SDN Kapasan V, SDN Simokerto I dan SDN Simokerto VI Surabaya di Ekowisata Mangrove Wonorejo. Aksi yang dilakukan pada Jumat pagi, (02/02) bertujuan untuk memperingati hari Lahan Basah Sedunia setiap tanggal 2 Februari. Tanam mangrove dipilih karena tanaman khas daerah pesisir ini mempunyai beragam manfaat bagi kehidupan.

Disampaikan langsung oleh Hanifa, aksi yang digelar ini sekaligus sebagai keberlanjutan aksi penanaman yang sudah mereka lakukan pada akhir tahun lalu. “Kali ini ditempat berbeda dan dengan melibatkan orang yang berbeda, yakni sekolah imbas yang ada di sekitar SMPN 41. Ya kami ingin mengajak mereka untuk secara perlahan bisa peduli lingkungan dan getok tular hingga diterapkan di sekolahnya masing-masing. Sementara untuk siswanya sendiri, guru-guru melibatkan tidak semua siswa, hanya puluhan siswa dari kelas 7 dan 8,” jelas Hanifa.

Menariknya, pada kegiatan penanaman mangrove sebelumnya mereka langsung bisa menanam mangrove karena pihak dinas pertanian bersama dengan petani tambak sudah mempersiapkan lubang atau lokasi tanamnya. Menurut Mochamad Zamroni, aktivis senior Tunas Hijau sekaligus presiden Tunas Hijau mengatakan kali ini mereka langsung diajak untuk melakukan proses awal yakni membuka lahan penanaman baru dan membuat lubang penanaman mangrove. “Ya biar mereka bisa tahu proses kalau menanam mangrove itu susah, setelah itu baru mereka bisa menghargai jerih payahya,” ucapnya.

Track penanaman yang masih tanah lempung dan berada dipinggir sungai menjadi salah satu momen yang tidak bisa terlupakan saat menanamnya. Dengan membawa beberapa bor biopori, bibit mangrove dan bamboo yang digunakan sebagai penyangga tanaman agar tidak hanyut ketika air sungai mulai pasang.  Muhammad Affan, guru pembina SDN Kapasan V, mengatakan ini adalah salah satu pengalaman yang berbeda didapatkan oleh siswa yang dibawa bersamanya. “Selain sebagai salah satu bentuk partisipasi, ini juga bisa jadi penyemangat mereka peduli lingkungan,” ujar Affan.

Dwi Murwanti, guru pembina lingkungan sekolah yang tahun lalu menjadi sekolah jawara Surabaya Eco School 2017 mengatakan rencana kedepan untuk menjadikan kegiatan menanam mangrove berkelanjutan entah setiap satu atau dua bulan sekali. “Nanti bersama dengan kak Roni, anak-anak akan diajak untuk melakukan monitoring hasil penanaman hari ini pada minggu depan dan beberapa kali kegiatan selanjutnya. Minggu depan, mereka akan menambah jumlah mangrove yang ditanam dan menghitung jumlah mangrove yang berhasil bertahan hidup,” terang Dwi.

Lebih lanjut, dengan adanya aksi penanaman mangrove di Ekowisata Mangrove Wonorejo bisa mengajak sekolah-sekolah lain untuk melakukan hal yang sama atau bahkan melakukan aksi lainnya dalam peringatan Hari Lahan Basah. Beberapa alternative kegiatan lingkungan yang bisa dilakukan untuk memperingati hari Lahan Basah Sedunia yakni melakukan gerakan pengumpulan minyak goreng bekas untuk didaur ulang atau diberikan kepada bank sampah, melakukan aksi pembuatan lubang resapan biopori, membuat gerakan besih-bersih bantaran sungai atau selokan sekitar sekolag. (ryn)

Keterangan Foto : Sebanayak 125 orang siswa dan guru SMPN 41 dan 4 sekolah dasar yang menjadi sekolah imbasnya melakukan aksi tanam mangrove di Ekowisata Mangrove Wonorejo untuk memperingati Hari Lahan Basah Sedunia yang jatuh tepat tanggal 2 Februari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *