Pembangungan gedung sekolah sering menjadi kambing hitam terhentinya pengelolaan lingkungan hidup di sekolah tersebut. Hal tersebut tidak berlaku di SMPN 41 Surabaya, yang selama tahun 2017 sedang membangun gedung sekolahnya.

Memang tidak semua sarana pengelolaan lingkungan hidup terus dioptimalkan, karena tidak adanya tempat penampungan sementara. Ialah Akhmat Fauzi, siswa kader lingkungan hidup sekolah ini yang berhasil menjaga keberlanjutan pengolahan sampah organik sisa makanan kantin sekolah dengan menggunakan keranjang takakura saat pelaksanaan program wirausaha lingkungan hidup Ecopreneur 2017

“Awalnya pengelola kantin sekolah diajak berkomitmen untuk memilah selalu sampah organik sisa makanannya. Siswa kader lingkungan hidup yang mengambil sampah sisa makanan dari masing-masing penjual kantin sekolah,” kata Akhmad Fauzi, yang lahir pada 2 Oktober 2002 ini.

Merutinkan pengambilan sampah sisa makanan dari masing-masing penjual kantin sekolah pada pada jam yang disepakati perlu komitmen kuat. “Waktu itu kader lingkungan dan penjual kantin sekolah sepakat bahwa pengambilan sisa makanan oleh kader lingkungan dilaksanakan setiap pukul 16.00 WIB jelang pulang sekolah,” terang siswa yang mendapat hadiah menginap gratis di Hotel Mercure Grand Mirama karena terpilih sebagai siswa terbaik SMP Ecopreneur 2017 ini

Untuk menjaga kesepakatan tersebut, memimpin pengambilan sampah organik sisa makanan kantin pada jam yang disepakati. “Beberapa hari awal nyaris lupa melakukan pengambilan, tapi Bu Hanifa (kepala SMPN 41 Surabaya) sering mengingatkan,” terang Fauzi yang bercita-cita sebagai chef ini.

Bagi Akhmad Fauzi, kesepakatan antara sekolah, kader lingkungan dan penjual kantin adalah kesepakatan bisnis. “Pengambilan sampah organik kantin harus dilakukan rutin. Sekali saja sampah sisa makanan tidak diambil, maka penjual kantin akan mogok untuk melakukan pemilahan sampah organik lagi,” tutur siswa penghobi permainan tradisional jaranan ini.

Kader lingkungan hidup, melalui program Ecopreneur, menurut Fauzi, juga seharusnya menganggap penjual kantin adalah supplier bahan baku produksinya. “Penjual kantin sekolah juga layaknya mitra bisnis kader lingkungan yang harus dijaga kepercayaannya agar terus memilah sampah,” terang Fauzi yang setiap hari harus bekerja menjadi asisten pedagang makanan mulai pukul 18.00 – dini hari. (ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *