Hidroponik umumnya bagi beberapa sekolah dijadikan sebagai program lingkungan yang diistimewakan. Disaat sekolah-sekolah menjadikan hidroponik menjadi program lingkungan yang baru bagi mereka, mulai dari proses penyemaian hingga pemindahan bibit tanaman ke media hidroponiknya sampai perawatan dijalankan. Suasana berbeda dirasakan oleh Tunas Hijau saat berkunjung di SMPN 11 bersama dengan mobil edukasi lingkungan hidup keliling Eco Mobile PJB, Kamis (01/02).

Salah satu metode menanam tanaman sayur ini digunakan bukan hanya sekedar program tetapi diintegrasikan kepada beberapa mata pelajaran yakni pembelajaran IPA, matematika dan kesenian. Disampaikan oleh Suminah, salah seorang guru pembina lingkungan, bahwa hidroponik menjadi salah satu pelajaran praktek bagi kelas 9 dan kelas 7. “Jadi sejak awal, kami sudah memberitahukan kepada wali murid dan anak-anak kelas 9 bahwa praktikum pelajaran IPA, matematika dan kesenian adalah membuat hidroponik,” terang Suminah.

Guru pengajar matematika ini menambahkan bahwa pembagian kerjanya adalah mata pelajaran matematika anak-anak diminta untuk mengukur luasan lubang hidroponik dan mengukur jarak yang ideal untuk setiap lubangnya. Sementara pada pelajaran kesenian, mereka diminta untuk melukis pipa paralon media yang digunakan pada instalasi hidroponik. Sementara untuk pelajaran IPA, mereka diharuskan melakukan penyemaian tanaman sayur yakni kangkung, sawi, bayam hijau dan bayam merah di rumah hingga berdaun dua yang harus segera dipindah ke instalasinya.

Anggriyan, aktivis Tunas Hijau, menyarankan kepada siswa agar membuat konten video perjalanan proses hidroponik mulai dari persemaian di rumah, perawatan di sekolah hingga akhirnya panen. Video bisa diunggah di media sosial sebagai sarana promosi dan konten inspirasi bagi sekolah-sekolah lainnya

Sementara itu menurut Rizaldy, salah seorang siswa kelas 8, dalam proses penyemaian bibit tanaman di rumah ini, semua kebutuhan dibeli sendiri oleh siswa dengan sistem patungan mulai dari membeli rockwoll nya. “Kami harus menyemai di rumah kak, yang menjadi tantangannya adalah saat bibit itu mati, jadi kami harus memulai dari awal lagi. Mulai dari perawatan sampai saat bibit belum pecah, sampai setelah pecah saya harus rajin membawanya dijemur di matahari agar bibitnya bisa tumbuh mencapai dua daun baru bisa dibawa ke sekolah,” terang Rizaldy yang juga ketua OSIS.

Pada pembelajaran hidroponik, setiap selesai istirahat, siswa yang sudah memindahkan bibit tanaman berdaun dua harus melakukan perawatan kepada tanaman sayur yang ada di instalasi hidroponik di belakang kantin. Menurut Anik, salah seorang guru IPA, anak-anak diajak untuk mengukur pH air yang digunakan sebagai sumber utama. “Karena ditempatkan di tempat terbuka, jadi untuk ukuran pH airnya pasti berubah-ubah karena mungkin tercampur air hujan. Kamipun menggunakan pH Down. Setelah itu baru ditambahkan nutrisi A B Mix,” ujar Anik.

Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, sekaligus operator Eco Mobile PJB menyarankan mereka agar membuat konten dokumentasi tentang hidroponik. Tujuannya adalah untuk menceritakan proses perjalanan pembuatan hidroponik mulai awal hingga panennya.”Kalau kalian bisa membuat konten videografinya perjalanan pembuatan hidroponik mulai dari aktivitas di rumah hingga di sekolah. Video itu bisa kalian unggah di media sosial agar bisa menginspirasi orang lain atau sekolah-sekolah lain melakukan hal yang sama. Lebih jauh ya tahun depan guru kalian hanya perlu menjelaskan dengan menunjukkan videonya,” saran Anggriyan. (ryn)

Keterangan Foto : Hidroponik milik SMPN 11 bukan hanya dijadikan program istimewa tetapi juga menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran bagi siswa kelas 9 dan kelas 7 dikorelasikan dengan 3 pelajaran yakni IPA, Matematika dan Kesenian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *