Dalam setahun, berpindah tugas mengajar di 3 sekolah berbeda adalah pengalaman luar biasa bagi seorang guru pegawai negeri sipil. Dialah Eka Fadiyah Wati, guru Bahasa Inggris peraih penghargaan Eco Teacher (Junior) of the Year 2017 untuk jenjang SMP dan madrasah tsanawiyah se Surabaya.

Penghargaan bergengsi dari Walikota Surabaya melalui program Surabaya Eco School 2017 itu diraih Dyah, panggilan Eka Fadiyah Wati, di SMPN 60 Surabaya. Di sekolah ini dia terhitung mengajar sejak Agustus – Desember 2017. Bersama angkatan pertama siswa SMPN 60 Surabaya, yang memiliki lahan terluas di Surabaya, Dyah membuat pondasi program lingkungan hidup berkelanjutan.

Sebelum di SMPN 60, dia menjadi guru dan pembina lingkungan hidup SDN Ujung IX / 34 Surabaya sejak 27 Juli 2015. Banyak hal yang sudah dilakukan dan dicapai di sekolah yang berlatarbelakang merger 3 sekolah yaitu SDN Ujung IX- X – XI dengan jumlah siswa 1280 anak.

Dyah berhasil membawa SDN Ujung IX sebagai juara III Sekolah Adiwiyata se Surabaya tahun 2016. 7 piala Surabaya Eco School 2016, yang diantaranya Juara 1 Surabaya Eco School 2016, berhasil diraihnya bersama SDN Ujung IX. “Hingga berlanjut saya membuat aplikasi Arjulan Company di PlayStore mengantarkan sekolah ini menjadi Runner up 1 Surabaya Ecopreneur 2017,” terang Dyah.

Eka Fadiyah Wati juga terpilih menjadi pembina terbaik dalam Penganugerahan Pangeran & Puteri Lingkungan Hidup 2017. Dyah juga berhasil  mengantarkan salah seorang siswanya yaitu Devina Syafa Vellisa sebagai Putri Lingkungan Hidup 2017 dan Keluarga Hijau 2017 menjadi pelengkap prestasi lingkungan hidup di SDN Ujung IX.

Agustus 2017 menjadi bulan tersulit yang harus dialami guru Bahasa Inggris ini. Pasalnya, dia lolos dalam seleksi guru PNS Bahasa Inggris yang akan beralih tugas mengajar ke jenjang SMP merupakan hal yang tak mudah untuk dilakukan. Seiring berjalannya waktu, Dyah mulai menapaki langkah barunya di SMP Negeri 60 Surabaya.

“Tak mudah menjalani program lingkungan tanpa mitra dan tanpa anggaran. Sebab, SMPN 60 saat Surabaya Eco School 2017 belum memiliki anggaran dan baru memiliki 2 tenaga pendidik definitif,” kata Eka Fadiyah Wati.

Berbekal semangat berkomunikasi dan melobi, dia mengajukan permohonan sarana pengelolaan lingkungan hidup berupa tong komposter, tempat sampah dan tanaman ke dinas terkait. “Alhamdulillah semua pengajuan kepada Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau maupun Dinas Pertanian disetujui,” tutur Dyah.

Tak kenal lelah dan pantang menyerah, merupakan hal yang selalu ditanamkan pada dirinya. “Jika tugas bisa dituntaskan sekarang, kenapa harus menunggu besok adalah sikap diri saya,” kata Eka Fadiyah Wati.

“Satu demi satu capaian dalam program lingkungan telah dilakukan dalam setiap tantangan tiap pekan. Saya bahkan rela membawa sendiri dengan motor saya semua tanaman yang diberikan Dinas Pertanian dari Pagesangan menuju SMPN 60,” terang Eka Fadiyah Wati, yang akhir September 2017 mendapat hadiah wisata belajar 3 hari di Pulau Bali.

Banyak kendala yang sering dia dapatkan ketika menjalani proses mengubah pola pikir warga sekolah agar bisa men-zero-waste-kan diri mereka. “Anggapan sok hijau sering saya dapatkan ketika melalui proses ini. Namun, itu tak meruntuhkan semangat untuk menggapai target yang ditetapkan,” jelas Eka Fadiyah Wati.

Bersama siswa kader lingkungan hidup SMPN 60 saat Surabaya Eco School 2017 merupakan semangat tersendiri. “Dan hal yang berkesan adalah bisa menanamkan sikap peduli lingkungan pada mereka yang nantinya bisa menjadi generasi bangsa yang bisa dibanggakan, bukan seperti Generasi Micin yang hanya bisa menjadi penyedap tantangan masa depan,” tegas Dyah.

Di SMPN 60 dengan hanya 2 tenaga pendidik merupakan hal yang tak mudah. Menjadi pendidik di luar bidang yang diampu merupakan tantangan besar bagi guru yang lahir bulan November ini. Selain mengajar Bahasa Inggris, dia juga mengampu Pelajaran Agama Islam, PKn dan TIK, karena belum adanya tenaga pendidik di sekolah itu.

“Semangat yang tidak sejalan dengan kondisi tubuh merupakan kendala yang teramat besar. Raga kadang menjadi rapuh dan tak sejalan dengan semangat yang menggebu,” terang guru yang tinggal di sekitar Jembatan Suramadu Surabaya ini. Banyaknya aktivitas dan tuntutan tugas utama mengaruskannnya untuk lebih pandai menjaga diri dan membagi prioritas agar tidak jatuh sakit.

Terhitung mulai Januari 2018, Eka Fadiyah Wati mendapat tugas baru sebagai guru Bahasa Inggris dan juga pembina lingkungan hidup SMPN 6 Surabaya. Di sekolah yang berlokasi di Jalan Jawa ini, banyak target lingkungan yang ingin dia realisasikan. “Saya akan meniadakan museum dan monumen lingkungan hidup yang banyak di SMPN 6 ini,” kata Dyah.

Museum dan monumen yang dia maksud adalah sarana pengelolaan lingkungan hidup yang sudah berjalan semestinya. “Ada hidroponik, keranjang pengomposan takakura, dan tong komposter aerob,” terang Eka Fadiyah Wati, yang mengaku sangat didukung oleh Kepala SMPN 6 Surabaya Sya’roni.

Melengkapi kepindahannya di SMPN 6 Surabaya sekaligus predikat sebagai Eco Teacher (Junior) of the Year 2017, guru satu ini sedang membuat aplikasi yang berisi permainan dan beragam informasi lingkungan hidup yang bisa didownload dengan android di PlayStore.

Dalam aplikasi “My Eco” berbasis android itu diantaranya berisi hari-hari Iingkungan, pahlawan yang berjasa di bidang lingkungan, istilah lingkungan dan banyak hal mengenai lingkungan. Dengan masukan dan dukungan Tunas Hijau, dia akan mendesain aplikasi ini sebaik mungkin. (ron)

One thought on “Eka Fadiyah Wati, Eco Teacher (Junior) of the Year 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *