Hari Lahan Basah Sedunia diperingati setiap 2 Februari. Tanggal ini memperingati hari ditandatanganinya Konvensi Lahan Basah, yang disebut Konvensi Ramsar, pada 2 Februari 1971 di Kota Ramsar, kota yang terletak di pantai Laut Kaspia di Iran. Hari Lahan Basah Sedunia diperingati pertama kali pada tahun 1997.

Lahan basah yang dimaksud adalah meliputi kawasan bakau atau mangrove, terumbu karang, sungai, rawa, hingga lahan gambut. Lahan basah tersebut mempunyai peranan penting bagi alam yang tak semua orang menyadarinya.

Lahan basah adalah area lahan yang tergenang air di musim tertentu maupun secara permanen. Ada dua jenis lahan basah, yakni lahan basah di pesisir pantai termasuk kawasan mangrove, muara, dan terumbu karang. Kedua yakni lahan basah di tengah daratan di antaranya sungai, dataran banjir, rawa, dan lahan gambut.

Masing-masing jenis lahan basah memiliki fungsi vital bagi alam termasuk manusia di daratan maupun sebagai tempat hidup makhluk lainnya. Mangrove atau pohon bakau misalnya, sebagai semak toleran yang tumbuh di pesisir pantai yang dangkal. Ia biasa hidup berdampingan dengan semak pesisir laut lain dan memanjang sepanjang bibir pantai.

Akar pohon mangrove ini sangat kuat menahan ombak besar dan mencegah terjadinya abrasi

Akar pohon bakau saling mengikat di setiap kilometernya. Gerombolan pohon bakau dapat mengurangi gelombang badai laut hingga 50 cm, sehingga mengurangi dampak tsunami. Setiap hektar hutan bakau diperkirakan memiliki nilai hingga US$15.161 per tahun dalam konteks menangkal bencana alam. Kemampuan tambahan, bakau juga berfungsi mampu menyerap karbondioksida.

Lahan basah laut seperti terumbu karang tak kalah pentingnya sebagai struktur pada pada perairan laut dangkal, terutama di perairan tropis, dan terbangun oleh koloni hidup dari polip kerang kecil. Terumbu karang merupakan rumah bagi seperempat dari total spesies laut. Terumbu karang juga menyediakan sumber penghidupan masyarakat lokal sebagai ekowisata .

Lahan basah di daratan seperti sungai perlu dilindungi agar alirannya tetap terjaga dengan baik. Banyak peristiwa banjir di nusantara ini telah membuktikan bahwa pendangkalan dasar sungai dan penyempitan luas bantaran sungai menjadi penyebab penyebab utama banjir yang terjadi.

Lahan basah lain yang tak kalah penting untuk dilindungi adalah gambut. Gambut merupakan lahan jenuh yang tergenang air dan mengandung bahan tanaman yang membusuk, menumpuk hingga ketebalan 30 meter, terkumpul dalam jangka waktu yang lama.

Lahan gambut mencangkup hingga 3 persen permukaan Bumi. Gambut juga harus dipertahankan karena mampu menyimpan karbon dua kali lipat dibanding karbon yang ada pada total seluruh hutan di dunia. Jika lahan gambut beralih fungsi maka pemanasan global juga akan semakin parah.

Berikut ini adalah aksi lingkungan hidup yang bisa dilakukan untuk memperingati Hari Lahan Basah Sedunia 2 Februari:

  1. Bersih-bersih saluran air dan sungai sekitar
  2. Kampanye penggunaan popok kain atau popok tidak sekali pakai
  3. Tanam mangrove
  4. Bersih-bersih sampah pesisir atau kawasan hutan mangrove
  5. Kampanye penggunaan deterjen, sabun dan shampo ramah lingkungan
  6. Pengumpulan bekas minyak goreng dari penjual makanan untuk selanjutnya dikirimkan kepada bank sampah terdekat
  7. Pembuatan lubang resapan biopori di bantaran sungai
  8. Penanaman pohon di bantaran sungai dan lahan kosong. (ron)

Keterangan foto utama: Aksi tanam mangrove siswa kader lingkungan hidup bersama Tunas Hijau pada awal tahun 2017

One thought on “Ini Alternatif Aksi Peringati Hari Lahan Basah Sedunia 2018

  1. Aksi nyata yang sangat diharapkan untuk diwujudkan dari para pejuang, pemerhati, pecinta, peduli lingkungan yang sejati. Aksi nyata sederhana nan tulus akan berdampak globlal kelak dikemudian hari. Yuuk, kita gelar aksi nyata dalam memperingati Hari Lahan Basah Sedunia 2018. Bersama kita bergandeng tangan melestarikan lingkungan, menyelamatkan bumi yang diciptakan Allah demi kemaslahatan umat manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *