Ruang kelas literasi yang menjadi salah satu pemanfaatan lahan baru menjadi tempat digelarnya  pembinaan lingkungan bersama Eco Mobile PJB di SMPN 26 Surabaya, Senin (29/01). Dengan memanfaatkan mini theatre yang ada pada mobil edukasi lingkungan hidup keliling Eco Mobile, Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau mengajak puluhan kader lingkungan hidup sekolah tersebut untuk mengembangkan program lingkungan yang sebelumnya sudah dijalankan.

Pengembangan program yang dimaksudkan berkaitan dengan adanya produk unggulan terbaru sekolah yang berlokasi di sebelah tempat wisata Food Junction ini.  Produk unggulan mereka adalah es krim daun mangga. Disampaikan oleh Asta Nur Rahman, salah seorang siswa kelas 8, produk unggulan es krim daun mangga ini sudah diproduksi dan dijual kepada warga sekolah, diperkenalkan kepada tamu sekolah.

“Kami ingin kedepan, produksi dari produk unggulan ini bisa lebih banyak dan dikenalkan kepada masyarakat luar tidak hanya di kalangan warga sekolah saja. Kami ingin memperkenalkan dengan cara promo melalui media sosial kak,” ujar Asta, ketua kader lingkungan yang biaisa disebut Pacomar Crew ini. Dalam pembinaan tersebut, Anggriyan menyampaikan kepada mereka tentang 4 kunci yang perlu dipelajari untuk memahami program Ecopreneur di sekolah.

Kotak pengomposan baru milik SMPN 26 Surabaya ini terbagi menjadi 4 kotak dimana setiap kotak terdapat informasi mengenai waktu pengomposan yang dibutuhkan

Keempat kunci tersebut adalah yang pertama produk ecopreneur haruslah didominasi oleh produk olahan yang berasal dari potensi lingkungan yang ada di sekolah. Kedua adalah penggunaan kemasan produk harus yang ramah lingkungan, tidak diperbolehkan menggunakan kemasan plastik kemasan yang sekali pakai, sedotan maupun kresek. Kunci yang ketiga adalah melakukan kegiatan promosi produk melalui berbagai macam cara salah satunya adalah media sosial. Kata kunci yang terakhir adalah adanya penyusunan target capaian dan modal awal.

Pasca materi di mini theatre Eco Mobile PJB dan kelas literasi, Morla, salah seorang siswa kelas 7 menanyakan proses pengomposan yang sudah mereka lakukan dengan memanfaatkan kotak pengomposan di dekat green house. “Kak, kalau pengomposan itu bisa jadi dan siap dipanen itu bagaimana perawatannya ya,” tanya Morla. Hal ini direspon oleh aktivis yang juga mahasiswa komunikasi dengan memberikan saran mempercepatnya melalui air leri.

“Kalau kalian mau pengomposan lebih cepat, tambahi dengan air cucian beras atau air leri. Yang perlu kalian ketahui adalah, dengan 4 kotak kompos ini, kalian harus mengerti alasan kotaknya dibedakan warnanya. Jadi kalian bisa tambahkan papan informasi di balik penutup kotak tentang proses pengomposan di masing-masing kotak ini memerlukan berapa minggu,” ujar Anggriyan. Tujuannya, dengan adanya informasi tersebut, tamu-tamu dari sekolah lain akan bisa belajar pengomposan tanpa harus perlu kalian jelaskan lagi. (ryn)

Keterangan Foto : Pengembangan program lingkungan perlu dilakukan dengan mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh setiap kader lingkungan. Salah satunya dengan membuat konten promosi produk unggulan milik kader LH SMPN 26 saat kunjungan Eco Mobile PJB ke sekolahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *