Pengolahan sampah organik dengan menggunakan media keranjang masih menjadi masalah di beberapa sekolah. Salah satunya seperti yang didapati Tunas Hijau saat melakukan pembinaan dan kunjungan Eco Mobile PJB di SMPN 5, Kamis (26/01). Menurut penuturan salah seorang kader lingkungan, mereka sebenarnya memiliki banyak keranjang komposter, akan tetapi hanya tiga keranjang komposter yang saat ini mereka kelola atau adopsi. Alasannya, sebagai salah satu percobaan bila berhasil hingga panen, mereka akan mengembangkannya.

Nadia Dzanuba, siswa kelas 8 ini menanyakan kepada Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau tentang kriteria pengolahan sampah organik yang mereka lakukan dikatakan berhasil seperti apa. Karena setiap satu minggu sekali, mereka rajin melakukan aksi grebek pasar yang digunakan sebagai bahan isian keranjangnya. “Kira-kira kalau melihat dari kondisi keranjang komposter kami sekarang, salah atau kurangnya dimana ya kak. Lalu, dikatakan berhasil itu yang seperti apa?” tanya Nadia.

Anggriyan Permana menjelaskan bahwa salah satu unsur keberhasilan pengomposan dengan keranjang komposter adalah bila kondisi di dalam keranjang terasa hangat, hal itu menandakan adanya mikroorganisme yang sedang melakukan proses penguraian sampah organik. “Sederhananya, kalau kalian saat mengolah atau mengaduk isian keranjang komposter merasakan suhu hangat di starternya itu berarti sedang terjadi proses pengomposan. Tapi, kalau dingin kondisinya berarti mikroorganismenya lagi tidak aktif,” jawab Riyan sambil tertawa sedikit bercanda.

Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau sekaligus operator Eco Mobile PJB menjelaskan kepada kader LH SMPN 5 tentang cara-cara agar pengomposan sampah organik bisa berhasil di sekolah

Menurut aktivis yang juga operator mobil edukasi lingkungan hidup keliling Eco Mobile PJB, tidak hanya dari suhu di dalam keranjang saja, faktor lainnya seperti kelembaban starter dan bagaimana sampah organik itu diolah jadi faktor lainnya. “Kalau saat kalian mengolah sampah organik, lalu sampah organiknya berada di permukaan starter atau tidak dikubur di dalam starter ya nantinya akan timbul jamur atau ada putih-putihnya dan itu tidak berhasil,” imbuhnya.

Penjelasan tersebut membuat kader lingkungan sekolah yang berlokasi di Jalan Rajawali nomor 57 ini bertekad untuk memperbaiki pengomposannya. Mereka berencana untuk memperbaiki sistem perawatan dengan lebih merutinkan lagi pengisian keranjang dalam dua hari sekali dengan memanfaatkan sampah organik yang dihasilkan kantin sekolah. Nur Abidah, siswa kelas 8 yang juga ketua kader LH mengatakan akan bekerjasama dengan pihak kantin agar menyisihkan sampah organik untuk mereka olah saat pulang sekolah.

Selain pengomposan, pada kunjungan kali ini mereka menyampaikan beberapa program lingkungan yang sudah berjalan di sekolah. Diantaranya adalah gerakan pengurangan sampah kemasan plastik dengan adanya aturan yang mengharuskan warga sekolah membawa tempat makan dan minum sendiri dari rumah. “Kalau mereka mau beli makanan di kantin, di kantin hanya ada piring dan gelas, kalau mau dibawa di kelas ya harus menggunakan tempat makan mereka. Kalau tidak bawa ya ada sanksinya kak. Salah satunya seperti membawa tanaman ke sekolah sanksinya,” ujar Nur Abidah. (ryn)

Keterangan Foto : Kader LH SMPN 5 foto bersama setelah pembinaan dan kunjungan Eco Mobile PJB yang membahas permasalahan pengolahan sampah organik di sekolahnya, Kamis (25/01).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *