Suasana Kecamatan Semampir tidak seperti biasanya pada Senin pagi (15/01), terlihat saat puluhan orang yang merupakan Stakeholders Kecamatan bersama puluhan staff pegawai DKRTH dan Tunas Hijau melakukan apel siaga yang langsung dipimpin oleh Camat Semampir. Pagi itu, secara serentak puluhan orang tersebut akan melakukan sosialisasi Peraturan Daerah Kota Surabaya No 5 Tahun 2014 bersama dengan Peraturan Walikota mengenai larangan membuang sampah sembarangan.

Siti Hindun, salah seorang camat perempuan di Surabaya menjelaskan bahwa sosialisasi mengenai peraturan baru ini akan dibagi menjadi beberapa titik. Diantaranya ke sekolah-sekolah baik SD/Mi maupun SMP/MTs, pemukiman warga di kampung dan warga yang tinggal di bantaran sungai Semampir. “Khusus untuk warga yang di bantaran sungai, tim Linmas, Satpoll PP dan kecamatan akan meminta ijin mereka untuk mengecat rumahnya warna-warni. Kalau mereka setuju ya langsung dibuatkan surat pernyataan,” ujar Hindun.

Menurutnya, surat pernyataan tersebut menjadi kekuatan hukum tersendiri ketimbang mendapat persetujuan hanya dari lisan. Selain itu, tujuan pengecatan rumah warga ini adalah untuk memperindah kawasan bantaran sungai yang sudah mulai kemarin mendapat perhatian lebih dari Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Salah satu yang menyedot perhatian adalah sosialisasi ke sekolah-sekolah yang terbagi atas beberapa tim menyebar di beberapa kelurahan seperti Sidotopo, Wonokusumo dan Ujung.

SDN Sidotopo IV, sekolah yang berada di daerah Bolodewo ini antusias mendengarkan peraturan baru yang disampaikan oleh Anang, salah seorang motivator lingkungan DKRTH, Anang mengatakan aturan yang melarang warga Surabaya membuang sampah sembarangan ini memiliki denda kepada setiap pelanggarnya. “Sampah yang dibuang kurang dari 1 meter volumenya, denda minimal adalah 75.000 rupiah, maksimalnya mencapai 50.000.000 rupiah atau kurungan pidana,” ucap Anang.

Seusai melakukan sosialisasi aturan daerah yang baru tentang larangan membuang sampah di sembarang ataupun di sembarang tempat melibatkan warga SDN Sidotopo II

Aturan tersebut cukup membuat perwakilan siswa kelas 3, 4, 5 dan 6 ini terkejut. Mereka tidak menyangka kalau sampah sekecil apapun seperti sedotan, bungkus permen dapat didenda sebanyak itu. “Uang saku kami aja maksimal 10.000 rupiah kak, ya kami pasti memilih untuk membuang sampah di tempat sampah, ketimbang harus membuangnya sembarangan,” ujar Rifki Adi, salahs seorang siswa kelas 5.

Elistianah, kepala SDN Sidotopo IV mengatakan, dirinya mengajak warga sekolah menerapkan aksi bersih-bersih sampah. “Kamipun memiliki aturan setiap sampah yang dibuang oleh siswa maupun guru denda 1000 rupiah. Setelah acara ini, saya akan menghimbau warga sekolah membawa tempat makan dan minum sendiri,” ungkap Elistianah. Suasana yang lain didapati rombongan tim keluarahan Sidotopo saat menuju ke SDN Sidotopo I.

Sekolah merger antara SDN Sidotopo VIII dan SDN Sidotopo Ini tidak kalah memberikan respon terhadap peraturan baru itu melalui sebuah gerakan Pungut Sampah (GPS) dan membentuk kader yang bertuhas untuk patroli sampah. “Kami memiliki kegiatan Pungut Sampah kak, biasanya anak-anak melakukan pungut sampah sebelum pulang sekolah,” ujar Suwarti, kepala SDN Sidotopo I. Pasca sosialisasipun, kepala sekolah ini langsung membentuk petugas atau kader lingkungan khusus tentang sampah. (ryn)

Keterangan Foto : Puluhan Stakeholders kecamatan Semampir bersama DKRTH dan Tunas Hijau foto bersama sebelum mensosialisasikan peraturan baru tentang larangan membuang sampah di sembarang tempat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *