Salah satu ruang pertemuan di Ibis Surabaya City Center Hotel disulap menjadi tempat workshop lingkungan bertema tanaman hidroponik bersama dengan Tunas Hijau, Jumat (12/01) sore. Workshop hidroponik yang mengundang 1 sekolah dasar yang berada di sekitar lokasi hotel tampak berbeda dari workshop hidroponik yang akhir tahun lalu digelar bersama Dinas Pendidikan Kota Surabaya.  Menariknya, tidak hanya perwakilan guru saja yang menjadi peserta workshop, beberapa orang karyawan hotel bagian pertamanan juga terlibat.

Seperti yang disampaikan oleh Boediarso Adi, HRD Ibis Surabaya City Center Hotel beberapa hari sebelum workshop dilaksanakan. Dirinya sangat berkeinginan untuk membuat hidroponik di hotel yang berlokasi di Jalan Basuki Rahmat ini sebagai bagian dari program kerjanya. “Saya sangat antusias dengan tanaman, makanya hotel ini meskipun terletak di tengah kota selalu saya imbangi dengan banyak tanaman. Nah, kalau ada hidroponik di hotel kan jadinya bisa menjadi salah satu nilai jual bagi tamu hotel. Makanya, saya minta tim gardening hotel untuk ikut,” ujar Boedi.

Workshop yang diikuti oleh perwakilan sekolah seperti SDN Kaliasin I, SDN Kaliasin V, SDN Kaliasin VII, SDN Tegalsari II, SDN Wonorejo I, SDN Wonorejo III, SDN Wonorejo IV, SDN Wonorejo V, SDN Wonorejo VI, SDN Kedungdoro I, SDN Kedungdoro II, SDN Kedungdoro IV, dan SDN Kedungdoro V ini lebih banyak mengulas perkembangan tanaman hidroponik yang dimiliki oleh beberapa sekolah. Ulasan berupa banyaknya permasalahan atau hambatan dari perwakilan guru saat proses persemaian bibit tanaman.

Dalam workshop hidroponik yang diikuti oleh perwakilan guru pembina LH dari 13 sekolah dasar, peserta diajak belajar dari pengalaman dan praktek melakukan persemaian

Bram Azzaino, aktivis senior Tunas Hijau, menjelaskan bahwa permasalahan terbesar yang menjadi pondasi awal memulai hidroponik adalah pada proses persemaian. Saat persemaian bibit tanaman hidroponik baik itu tanaman selada maupun kangkung, “Yang terpenting adalah memperhatikan kadar kelarutan dan pH air yang digunakan awal persemaian harus TDS rendah. Bukan hanya itu, perilaku merawat tanaman hidroponik juga menentukan seperti menjemur bibit yang sudah mulai tumbuh daun agar terkena sinar matahari,” ujar Bram.

Satuman, aktivis Tunas Hijau, menambahkan salah satu faktor yang mempengaruhi adalah masa pertumbuhan bibit tanaman hidroponik. Menurutnya, media apapun yang digunakan untuk tanaman hidroponik seperti model wick atau sumbu atau menggunakan pipa yang penting bentuk daunnya. “Kalau bibit tanaman itu kondisinya pendek memiliki daun tiga berarti itu yang baik, tetapi kalau tanamannya kurus tinggi langsing dan jumlah daunnya hanya dua berarti ada kesalahan saat proses perawatan hidroponiknya. Selain itu, perlu diingat bahwa bibit tanaman itu bukanlah daun sejatinya, tetapi daun sejati akan tumbuh setelahnya,” terang Satuman.

Endah Widyawati, salah seorang guru SDN Tegalsari II mengaku dirinya begitu antusias dan tertarik untuk memulai kembali di sekolahnya. Menurutnya, sekolahnya sudah mempunyai instalasi hidroponik tetapi belum digunakan lagi setelah panen tanaman sawi kali pertama dan terakhir. “Saya ingin mencobanya sekali lagi di sekolah dengan memanfaatkan instalasi hidroponik yang sudah ada. Ditambah, saya ingin membuat dengan sistem yang lain seperti sistem sumbu ini menarik sepertinya,” tutur Endah, guru kelas 4. (ryn)

Keterangan Foto : Bram Azzaino, aktivis senior Tunas Hijau menjelaskan proses persemaian dengan menggunakan media rockwoll kepada perwakilan 13 sekolah dasar peserta workshop di Ibis Surabaya City Center.

One thought on “Workshop Hidroponik Bersama 13 SD di Ibis Surabaya City Center Hotel

  1. Hidroponik merupakan salah satu cara menanam yang sangat cocok untuk lahan sempit, asalkan harus dilakukan dengan telaten, dan sabar.
    Kapan ya jadwalnya workshop untuk guru-guru SMP, kak Tunas Hijau? Pasti banyak yang mengharapkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *