Ilmu itu tidak selalu didapatkan ketika berada di sekolah, ilmu bisa didapatkan dimanapun, seperti salah satunya di kampung Genteng Candi Rejo. Puluhan orang siswa kader LH SMPN 35 berkesempatan berkunjung ke kampung wisata yang terkenal dengan branding kampung berwawasan lingkungan untuk belajar cara pembuatan perangsang makanan ikan untuk diterapkan di kolam ikan sekolahnya, Jumat (12/01).

Bertempat di taman baca dan ruang pameran hasil karya warga kampung, Syahir, Kepala RT yang juga sebagai fasilitator lingkungan Kota Surabaya, menjelaskan kepada mereka tentang fungsi dari perangsang pakan ikan yang bernama probiotik. Menurutnya, probiotik ini berfungsi untuk membuat hasil ikan di kolam menjadi lebih sehat, lebih besar dan tidak amis. “Sebenarnya probiotik ini bukan pakan ikannya, tetapi layaknya vitamin pada tubuh manusia agar lebih sehat,” ujar Syahir.

Ketua RT yang selama lebih dari 11 tahun menjabat ini mengatakan bahwa dengan menggunakan probiotik ini berdampak pada perekonomian warganya yang terus meningkat. Hal ini dikarenakan di kampung yang terletak berdekatan dengan pasar Genteng ini memiliki banyak kolam ikan. “Kolam-kolam ikan yang ada di depan rumah warga ini dibuat dengan memanfaatkan sirkulasi air hasil pengolahan limbah saluran air.  Tetapi saat panen, ikan tidak bau amis, tangan warga setelah bersentuhan dengan ikanpun ikut tidak berbau amis,” terangnya.

Tanaman hidroponik menjadi salah satu daya tarik kader lingkungan untuk ditirukan di sekolahnya, SMPN 35

Menariknya, pembelajaran lingkungan dilanjutkan dengan berkeliling melihat beraneka ragam program lingkungan yang ada di kampung. Mulai dari pemanfaatan air limbah untuk kolam ikan, tanaman hidroponik, green house, pengolahan TOGA  menjadi aneka minuman hingga pengomposan dengan media tong komposter. Safitri Putri, salah seorang siswa kelas 8 terkesan dengan program kolam ikan yang memanfaatkan air limbah saluran air dari kampung. “Wah, sepertinya menarik kalau cara ini juga diterapkan untuk kolam ikan di sekolah,” ujarnya.

Sementara Sri Ekawati, guru pembina lingkungan justru tertarik dengan hasil olahan blimbing wuluh yang dijadikan manisan. Menurutnya, rasa manisan blimbing wuluh produksi UKM kampung Candi Rejo ini memiliki tekstur dan rasa yang berbeda dengan manisan yang pernah dibelinya di beberapa tempat. “Saya malah kepingin belajar cara membuat manisan blimbing wuluh karena kebetulan produk icon sekolah kami juga adalah blimbing wuluh. Sedangkan biasanya kami mengolah buah yang asam ini menjadi sirup dan selai,” ujar Eka.

Tawaran kerjasama ini langsung disambut dengan rencana jalinan kerjasama bersama dengan Nur Cholifah, salah seorang ibu rumah tangga penggerak UKM olahan produk minuman herbal dengan bertukar ilmu. “Terima kasih kepada rombongan dari SMPN 35 Surabaya yang sudah belajar di kampung kami. Saya sendiri juga tertarik untuk belajar membuat selai blimbing wuluh dan smoothy blimbing wuluh kepada guru-guru di sekolah ini. Semoga bisa terjalin kerjasama yang saling menguntungkan ya,” ucap Nur. (ryn)

Keterangan Foto : Syahir, ketua RT Kampung Genteng Candi Rejo menjelaskan proses pengolahan air limbah di kampungnya yang berasal dari saluran air kepada puluhan kader LH SMPN 35 Sby.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *