Puluhan kader lingkungan SMPN 19 Surabaya kaget melihat isi dari keenam tong komposter yang ada di sebelah pagar sekolah. Bila pekan lalu saat terakhir mengisinya dengan sampah organik kondisinya masih berproses dan baik. Kali ini, mereka terkejut saat melihat di dalam dua tong komposter ada sampah non organik seperti gelas plastik, popok bayi dan jajan kemasan. Informasi tersebut didapati saat Tunas Hijau bersama Eco Mobile PJB melakukan pembinaan, Kamis (11/01) di sekolahnya.

Menurut penuturan Satria Dhafa, siswa kelas 8, kemungkinan besar sampah non organik yang ada di dalam tong komposter berasal dari pihak-pihak di luar sekolah, misalnya orang tua siswa. “Kami kaget dan heran kenapa ada sampah nonorganik yang tidak dihasilkan di sekolah. Di kantin sekolah sudah tidak ada lagi kemasan plastik sekali pakai. Apalagi seperti popok bayi, jadi dugaan kami ya ada walimurid atau siswa yang membawa sampah dari luar sekolah lalu buangnya disini,” ujar Satria.

Siswa yang menjadi calon ketua kader LH ini menambahkan bahwa sejak tahun lalu pada semester ganjil, sekolah membuat kebijakan bagi setiap sekolah untuk membawa tas kain khusus yang dijadikan tempat sampah individu. “Tempat sampah yang biasanya ada di depan kelas sudah diambil semua, karena dengan adanya kebijakan baru itu membuat semua tempat sampah yang ada di depan kelas diambil, sehingga anak-anak menggunakan tas kainnya sendiri sebagai tempat sampah dan harus dibawa pulang,” imbuhnya.

Pada kunjungan dan pembinaan Eco Mobile PJB, Anggriyan Permana, salah seorang operator kegiatan sekaligus aktivis Tunas Hijau, mengajak mereka untuk mengecek pengomposan dengan media keranjang komposter. Geraldhi Franslin, siswa kelas 7 yang menjadi koordinator kegiatan kelompok kerja keranjang komposter mengaku kegiatan pengomposan ini sudah ada jadwal piket yang dilakukan setiap hari saat pulang sekolah.

Dari puluhan keranjang komposter, hanya beberapa keranjang komposter yang mengalami gagal perawatan, seperti banyak semut dan jamuran. Sebagian besar keranjang komposter yang lain menunjukkan dalam kondisi yang baik. “Jadi setiap hari, anak-anak yang piket untuk mengisi keranjang komposter mengambil sisa makanan dari ibu-ibu kantin. Setelah itu baru diolah, setiap dua orang diberikan tanggung jawab mengolah satu keranjang komposter,” ucap Geraldhi, siswa kelas 7C.

Beberapa komposter yang sudah siap panenpun dibedakan, Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, memberikan contoh proses panen kompos dengan memanfaatkan tutup keranjang sebagai ayakannya. “Kalau sudah diayak, hasil ayakan kasar masukkan lagi ke dalam komposter. Lalu, jangan lupa ganti kardusnya setiap dua minggu sekali. Kalau tidak nanti besar kemungkinan banyak hewan yang akan masuk ke dalam,” ujar Anggriyan. Rencana kedepannya, mereka ingin mengembangkan hutan sekolah menjadi hutan produktif yang menghasilkan produk olahan untuk sekolah. (ryn)

Keterangan Foto : Anggriyan Permana. salah seorang operator Eco Mobile PJB sekaligus aktivis Tunas Hijau berbagi tips mengolah sampah organik dengan keranjang komposter yang mengasyikkan pada siswa SMPN 19 Surabaya, Kamis (11/01).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *