Pemandangan berbeda terlihat saat sore hari di SMPN 20 dimana pada waktu itu seharusnya adalah waktunya pulang sekolah. Belasan orang siswa kelas 7 dan 8 yang tergabung dalam kader lingkungan malah memutuskan untuk tidak pulang terlebih dahulu. Mereka terlihat berkelompok sedang asyik ngopeni atau sedang melakukan pengisian keranjang komposter dengan sampah organik. Meskipun mendung dan gerimis rintik datang, bukan menjadi penghalang mereka untuk peduli lingkungan.

Suasana tersebut diperlihatkan dihadapan Tunas Hijau saat menggelar pembinaan lingkungan pasca program Surabaya Eco School 2017 di sekolahnya, Rabu (10/01). Sekolah yang berada di daerah Dukuh Kapasan, Sambikerep ini mempunyai puluhan keranjang komposter yang sudah terbagi menjadi beberapa penanggung jawab. Disampaikan oleh Ananta Nuhzia, siswa kelas 8, setiap satu keranjang dikelola oleh maksimal 5 orang.

“Dari kelima orang itu, ada satu orang yang bertugas untuk mendokumentasikan kegiatan kelompoknya. Hasil dokumentasinya itu menjadi laporan kegiatan mereka yang harus diunggah ke instagram lalu ditandai ke instagram Tunas Hijau kak,” ujar Ananta. Menariknya, saat proses perawatan keranjang komposter untuk diisi dengan sampah organik. Sampah organik di kantin sekolah sudah tidak ada karena sudah diolah oleh kelompok yang lain.

Sumber penghasil sampah organik di sekolah tidak hanya berasal dari kantin sekolah, improvisasi yang dilakukan oleh kader lingkunganpun diluar dugaan. Secara berkelompok, mereka menanyakan sampah organik sisa makanan yang ada di rumah-rumah warga sekitar sekolah. Nigel Dwi, ketua kader lingkungan mengatakan bahwa tidak hanya meminta sampah organik sisa makanan, mereka juga menyempatkan sosialisasi mengenai fungsi dari keranjang komposter kepada ibu-ibu rumah tangga ini.

Momen adalah hal terpenting dalam setiap pendokumentasian kegiatan, karena tanpa menunggu kualitas HP terlebih dahulu, yang terpenting adalah menangkap momen. Pembelajaran itu yang diberikan Tunas Hijau dalam jurnalistik lingkungan kepada kader lingkungan SMPN 20, Rabu (10/10)

“Ya meskipun dengan rasa deg-degan kak mau minta sampah organik ke ibu-ibu yang ada di depan, apalagi tadi banyak yang tanya sampah organiknya dibuat apa. Jadinya ya kami jelaskan kalau sampah organiknya digunakan untuk pengomposan dengan menggunakan keranjang. Eh, respon mereka malah senang dan meminta untuk dua atau tiga hari sekali kami mengambil sampah organik mereka lagi,” terang Nigel, siswa kelas 8.

Melalui sistem ini, mereka ingin menjadikan komposter adopsi ini sebagai percontohan bagi kader lingkungan yang lain. Dalam waktu satu bulan kedepan, bila mereka berhasil merawat hingga masa panen datang, beberapa keranjang komposter lain akan didistribusikan kepada kelas-kelas untuk diberikan tanggung jawab mengolahnya. “Kalau sudah berhasil, kami akan maraton sosialisasi ke kelas-kelas tentang komposter ini, sambil jalan juga kami ingin mengaktifkan lagi tong komposter yang baru dari sekolah,” ujar Ananta.

Sementara itu, setelah perawatan komposter, belasan kader lingkungan ini mendapatkan materi jurnalistik lingkungan dari Anggriyan Permana, aktivis senior Tunas Hijau. Riyan sapaan akrabnya mengajak mereka untuk menuliskan keterangan foto dari dokumentasi yang sudah didapat dengan kaidah jurnalistik 5W + 1H. “Yang terpenting adalah menangkap momennya, setelah itu saat mengunggah ke instagram, ceritakan dengan rinci hal menariknya apa, dimana, kapan, siapa, mengapa dan bagaimana kegiatan itu dilaksanakan,” terang Anggriyan. (ryn)

Keterangan Foto : Belasan kader lingkungan berkelompok untuk berbagi tanggung jawab merawat dan mengelola keranjang komposter hingga bisa dipanen dalam pembinaan lingkungan di SMPN 20, Rabu (10/10).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *