Namanya Dinda Febri Putri Thaher, kelahiran Surabaya 19 Februari 2003. Dinda menjadi pioner siswa SMPN 23 yang tertarik dengan kegiatan lingkungan, sebagai ujung tombak gerakan lingkungan yang dimotori oleh siswa. Awal sepak terjangnya sebagai kader lingkungan dimulai saat dirinya dipercaya sebagai ketua program Ecopreneur yang juga menjadi ketua OSIS. Dirinya menggunakan jabatan tersebut sebagai salah satu kekuatan mengajak warga sekolah peduli lingkungan.

Sosok yang dikenal ramah dan murah senyum ini merupakan tipikal siswa yang langsung memberikan contoh dihadapan teman-temannya. Seperti saat ada seorang temannya yang membawa permen kemasan lalu membagikannya kepada teman lainnya. Kemudian sampah kemasan permen itu dibuang begitu saja dihadapannya. Sontak hal itu membuat ketua OSIS ini tegas menegur temannya tersebut setelah itu di depan temannya, dinda membuang kemasan permen ke tempat sampah.

Dirinya percaya dengan memberikan contoh nyata terus menerus kepada teman-temannya secara tidak langsung mereka akan bosan kemudian memilih untuk menirukan apa yang dilakukan olehnya ditambah dengan cara pendekatan kepada teman-teman terdekatnya. Hal tersebut membawa dampak besar bagi perubahan pembiasaan yang mengarah pada ramah lingkungan. “Dulunya saya suka sekali membeli snack kemasan plastik, sekarang mending bawa bekal dari rumah,” ucapnya.

Membawa tempat makan dan botol minum sendiri menjadi salah satu gerakan konsisten yang dilakukan hingga membawa dampak seluruh warga sekolah mengikuti jejaknya. Tidak hanya itu, dirinya juga cakap berkomunikasi sehingga menjadi guide bagi tamu-tamu dari luar sekolah yang ingin belajar lingkungan di sekolahnya

Alasan kesehatan menjadi faktor utama dirinya memilih untuk membawa tempat makan dan botol minum sendiri. Faktor lainnya adalah karena aksi tersebut lebih ramah lingkungan tidak menghasilkan banyak sampah plastik. Aksi yang dilakukannya ini menjadi pemantik sekolah untuk mengajak warga sekolah melakukan aksi massal membawa tempat makan dan minum sendiri. “Kami mengajak warga sekolah untuk biasa membawa bekal sendiri, kantin tidak menyediakan makanan berbungkus plastik jadi kalau mau ke kantin ya harus bawa tempat sendiri,” ujar Kun Mariyati, pembinanya.

Dimata Kun Mariyati, guru penanggung jawab lingkungan sekolah yang berada di Jalan Kedung Baru Nomor 1, Dinda adalah sosok pemimpin yang bisa mengajak warga sekolah melakukan aksi peduli lingkungan. “Anaknya aktif dalam setiap kegiatan lingkungan, seperti jadi tim yel-yel, tim jingle, menjadi guide atau pemandu saat ada tamu dari berbagai instansi dan tamu luar negeri untuk menjelaskan program lingkungan di sekolah, jadi ya dia andalan kami tim guru di sekolah,” jelas Kun.

Momen menarik yang tidak terlupakan adalah saat dirinya berhasil meraih predikat sebagai peserta terbaik dalam kegiatan Kemah Hijau tingat Kota Surabaya yang melibatkan seluruh perwakian SMP. “Selain senang dan bangga karena bisa mengharumkan nama sekolah, predikat siswa terbaik ini juga menjadi motivasi dan semangat saya untuk mengajak anak-anak di sekolah lebih peduli lingkungan,” ucap Dinda. Keuntungan lainnya adalah dirinya mendapatkan banyak teman yang bisa diajak berbagi pengalaman dan diskusi program lingkungan antar sekolah.

Dalam program Surabaya Eco School, tantangan mingguan menjadi bentuk kegiatan yang paling menantang dirinya dan warga sekolah lainnya. Selain karena adanya batasan waktu atau durasi, setiap minggunya tantangan selalu berubah. “Justru karena berubah-ubah itu membuat saya dan teman-teman merasa tertantang untuk menyelesaikannya. Rasanya kalau tidak bisa mencapai target itu jadi bahan pembelajaran, tetapi untungnya selama ini selalu on target,” jelas Dinda.

Sebagai ketua program Surabaya Eco School meksipun sudah kelas 9, dirinya bersama tim lingkungan yang lain harus tetap mengontrol perkembangan setiap pokja yang kini dikelola oleh siswa kelas 7 dan 8. Mengaduk kompos, mengisi biopori, menyiram tanaman, menjual es kepo dan es krim kepo di kantin sehat setiap harinya, menyuling kenanga dan serai wangi, menjual hasil kebun dan hidroponik, mengontrol green house dan taman toga, menjadi kegiatan edukasi mereka yang menyenangkan diluar jam pelajaran.

Keinginan untuk bisa bergabung dengan Tunas Hijau dikemudian hari menjadi salah satu motivasinya untuk terus melakukan kegiatan lingungan dan mengajak sebanyak mungkin orang lain peduli lingkungan. Di keluargapun, dirinya mendapat dukungan dari mereka dengan ikut menirukan gaya hidup ramah lingkungan yang dilakukan oleh siswa berprestasi ini. “Kedepan, saya ingin bisa mengajak lebih banyak orang untuk peduli lingkungan dan menerapkan gaya hidup yang ramah lingkungan,” ucap Dinda. (ryn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *