Mendapat penghargaan bergengsi dari program Surabaya Eco School 2017 yakni Eco Teacher (Elementary) Of The Year membawa perubahan bagi SDN Airlangga I. Penghargaan yang diberikan kepada Shanti Sri Rejeki, guru pembina lingkungan yang getol mengajak gerakan peduli lingkungan memberikan dorongan semangat kepada kepala sekolah. Beberapa perencanaan disusun oleh Matrai Faridhin, kepala SDN Airlangga I diantaranya pembuatan green house dan peremajaan kantin sekolah.

Informasi tersebut diterima Tunas Hijau saat menggelar pembinaan lingkungan pasca Surabaya Eco School 2017 di sekolahnya, Rabu (10/01). Menurut Shanti, sosok kepala sekolahnya memang tipikal orang yang sistematis. “Bapak memang berencana untuk membangun green house di samping ruang guru, memanfaatkan bekas kolam ikan yang tidak dipakai. Sementara itu, untuk kantin sekolah sebelum menerapkan kebijakan pengurangan kemasan plastik sekali pakai, bapak maunya membuatkan mereka fasilitas dulu baru kebijakannya dikenalkan,” terang Shanti.

Saat pembinaan lingkungan, Shanti bersama dengan tim kader lingkungan menjelaskan bahwa ada satu program lingkungan yang belum bisa optimal yakni pengomposan dengan tong komposter. Lokasi penempatan tong yang susah untuk diakses menjadi kendala bagi mereka dalam setiap pengisian sampah organik. “Karena tong komposternya susah untuk diakses, makanya anak-anak lebih memilih mengisikan sampah organiknya ke dalam keranjang komposter,” imbuh guru berkaca mata ini.

Sementara itu satu instalasi hidroponik milik sekolah yang berada di samping kecamatan Gubeng ini dioperasionalkan dengan baik. Menurut Aisyah Putri, salah seorang siswa kelas 6, tanaman sayur yang ada di dalam hidroponik ini sudah dua kali dipanen bersama teman-temannya. Saat proses perawatan pun, mereka memulai dengan penyemaian bibit sawi dan kangkung. “Ya karena instalasi hidroponiknya hanya satu, ya kami bergantian merawatnya. Biasanya sih pengecekan tanaman, penambahan nutrisi A dan nutrisi B mix begitu kak,” tutur Aisyah.

Rencana kedepannya, menyambut program lingkungan Ecopreneur dan Pangeran Puteri Lingkungan Hidup, kader lingkungan berencana untuk melakukan budidaya tanaman pare, tanaman okra dan tanaman kelor. Disampaikan oleh Rifki Dio, siswa kelas 6 bahwa untuk pengembangan program lingkungan yang bervariatif, mereka ingin membudidayakan tanaman yang bisa diolah dan olahannya bermanfaat bagii warga sekolah. “Kalau daun kelor bisa dibuat minuman yang menyehatkan tetapi ya disukai warga sekolah,” ujar Dio, Runner Up II Pangeran LH 2017.

Tidak hanya menyiapkan budidaya kelor, Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau juga mendesak sekolah agar secara bertahap merealisasikan program Zero Waste di sekolah. “Akan lebih baik lagi bila program bawa tempat makan dan minum sendiri dilakukan setiap hari, kantin diberikan regulasi mengenai kemasan plastik sekali pakai dan perjanjiannya. Sedangkan warga sekolah dibuat kebijakan atau aturan tidak boleh membawa jajanan berbungkus plastik dari luar ke dalam sekolah, semoga bisa segera terealisasi ya,” saran Anggriyan. (ryn)

Keterangan Foto : Shanti Sri Rejeki, guru pembina lingkungan SDN Airlangga I menjelaskan cara perawatan tanaman hidroponik di depan kader lingkungan kelas 4, 5 dan 6.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *