Namanya Shanty Sri Rejeki, guru kelas 1A di SDN Airlangga 1 – 198 Surabaya, belum ada 3 tahun dirinya mengajar di sekolah, tapi kiprahnya di bidang lingkungan perlu diacungi jempol. Sifatnya yang cekatan dan peduli lingkungan ditunjukkan dengan karakter cepat tanggap saat melihat sampah tidak di buang pada tempatnya. Tahun pertama dipercaya menjadi guru penanggung jawab kegiatan lingkungan oleh kepala sekolah menjadi tantangan awal baginya.

Pada awalnya, mengajak warga sekolah untuk peduli lingkungan mempunyai tingkat kesulitan tersendiri. Dirinya harus rela terus mengingatkan anak didiknya untuk membuang sampah ke tempat sampah setiap kali melihat ada sampah yang berserakan. Melalui program Surabaya Eco School, sosok guru berkarakter pejuang ini menemukan alat untuk mengajak warga sekolah peduli lingkungan.

Secara perlahan, guru berkacamata ini memasukkan program lingkungan operasi sampah setiap dua kali dalam sehari yakni setelah istirahat dan sebelum pulang sekolah. Aksi ini terbukti bisa membuat warga sekolah secara perlahan berubah menuju siswa peduli lingkungan. Memanfaatkan pengeras suara sebagai radio sekolah untuk menyerukan ajakan peduli lingkungan, Shanti membentuk tim lingkungan yang terdiri dari siswa, guru dan beberapa karyawan sekolah.

Guru kelas 1 ini tak kenal lelah mengajarkan kepada anak didik dan kader lingkungan untuk terus konsisten melakukan aksi lingkungan di sekolah, salah satunya yang sederhana adalah membawa tempat makan dan minum sendiri

Dalam pergaulan Shanti terkenal ramah dengan kepala sekolah, rekan-rekan guru, siswa dan wali murid , sehingga memudahkannya menyerukan misi peduli lingkungan dan realisasi zero waste kepada mereka. Meskipun dengan capaian yang diperoleh, ada beberapa pihak yang kurang sependapat namun karena sifatnya yang tidak arogan semua dapat diselesaikannya dengan cara diskusi win win solution.

Seperti saat berselisih paham dengan ketua proyek Adiwiyata yang sempat miss persepsi, dengan bagian kebersihan sekolah tentang tempat pengkomposan, apotik hidup dan takakura, juga dengan petugas  kantin yang masih menjual makanan dengan kantong plastik, semua dapat diselesaikan dengan tidak menjatuhkan satu sama lain, kegiatan lingkungan yang dimotori oleh Shantipun tetap berjalan.

Guru pembina Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup ini terus konsisten dalam mengupayakan sekolah agar bebas kemasan plastik sekali pakai. Memberikan teladan dengan membawa tepak makan dan botol minum sendiri adalah bentuk aksi nyata yang selalu dilakukannya setiap hari. Tujuannya, agar siswa dan rekan-rekan guru bisa meniru aksinya membawa tempat makan dan minum sendiri. “Ya kalau membawa sendiri kan lebih hemat dan lebih higienis,” ucapnya.

Sosok guru yang tegas dan juweh ini selalu tidak lupa untuk mengingatkan warga sekolah untuk melakukan aksi pemilahan sampah di kelas-kelas. Siswa kelas 4 dan 5 menjadi kelas percontohan pemilahan sampah yakni sampah plastik botol dan gelas serta sampah kertas. Hasilnya, setiap satu atau dua minggu sekali, tim lingkungan mendapatkan dana dari hasil penjualan sampah yang sudah dikumpulkan.

Momen yang tidak bisa dilupakannya adalah saat lomba yel-yel lingkungan Surabaya Eco School, dirinya mengumpulkan walimurid untuk mensosialisasikan tujuan sekolah mengikuti ajang perlombaan bergengsi tersebut. Diluar dugaan, respon walimurid pun langsung setuju dan siap membantu dalam proses pembuatan kostum daur ulang yang didapatkan dari hasil pemilahan sampah di kelas-kelas. “Jadi ya kami murni daur ulang dari sampah kelas dengan melibatkan walimurid ini,” ucap Shanti.

Pada akhirnya sifatnya yang murah hati, rela berkorban dan pantang menyerah membawanya meraih penghargaan Eco Teacher of The Year (Elementary) Surabaya Eco School 2017. Hampir semua kegiatan lingkungan yang dijalankan selalu butuh dukungan dana, tetapi tidak semua dana untuk kegiatan selalu di dukung dalam pembiayaan anggaran sekolah.

Shanti tak segan untuk menyisihkan dana dalam tiap kegiatan yang digawanginya ini untuk sekedar membeli polibag, pupuk, tempat minum yang dibagi- bagikan kepada siswa yang tidak membawa botol minum berulang kali pakai.  Hal yang paling sederhana adalah membelikan minuman untuk siswanya  yang sudah ikut berperan dalam kegiatan lingkungan di sekolah . (ryn)

Keterangan Foto : Shanti Sri Rejeki, sosok guru pembina lingkungan yang getol menyuarakan gerakan peduli lingkungan di SDN Airlangga I yang membawanya menjadi Eco Teacher Of The Year (Elementary) SES 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *