Selama 6 tahun menjadi siswa SDN Kaliasin I, Sarfina Armalia dikenal sebagai siswa yang aktif dalam kegiatan sekolah. Hal ini menjadi modal utama dirinya dalam menemukan passion atau ketertarikannya terhadap sesuatu. Benar saja, lingkungan hidup menjadi pilihan passionnya, hal ini dibuktikan dengan langkah awalnya mengikuti program Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup namun gagal mencapai final.

Kegagalan sepertinya tidak ada di kamus hidup Fifi, sapaan akrab yang diberikan teman-temannya. Fifipun terus mengikuti berbagai program lingkungan seperti Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup di tahun berikutnya, menjadi tim ecopreneur hingga terakhir tahun ini dipercaya menjadi koordinator program Surabaya Eco School 2017 oleh sekolah.

Sosok yang ceria di mata teman-temannya ini tidak banyak bicara melainkan langsung memberikan contoh kepada siswa lain dalam kepedulian lingkungan. Melalui komandonya, sosok dengan perawakan kalem ini mengajak warga sekolah melakukan berbagai kegiatan seperti pemilahan sampah, pengomposan, aksi grebek pasar hingga perawatan kebun sekolah yang berada di atas memanfaatkan lahan kosong dan perawatan hidroponik.

Pengurangan kemasan plastik sekali pakai menjadi salah satu proyek lingkungan hidup yang terus berkelanjutan dikembangkan. Secara bertahap, Fifi mengajak siswa dari SDN Kaliasin III yang sejak tahun ini sudah merger dengan sekolahnya membawa tempat makan sendiri, botol sendiri hingga tas belanja untuk mengurangi sampah kemasan plastik. Aksi ini mendapat apresiasi dan respon positif dari guru-guru yang menurut mereka Fifi turut membantu kebijakan sekolah.

Fifi, sapaan akrab dari Sarfina Armalia bersama timnya terus konsisten mengajak warga sekolah lain untuk peduli lingkungan melalui gerakan membawa tempat makan dan tempat minum sendiri

Dimata Erni Dwi Suryaningtyas, guru kelas 3 ini sosok siswa yang memiliki jiwa sosial tinggi ini memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Hal ini terlihat saat dirinya melihat ada teman atau guru di kelas sedang sakit, langsung sigap menanyakan keluhan sakitnya. “Kalau sudah tahu, Fifi langsung bergegas ke UKS untuk mengambil obat yang sesuai dengan keluhan mereka. Tidak jarang bahkan dirinya merawat teman-temannya sendiri di UKS,” ujar Erni.

Sepak terjang Fifi tidak hanya di sekolah, bersama dengan teman-temannya saat mengadakan aksi grebek pasar, dirinya menyisipkan sosialisasi mengenai bahaya kantong plastik kepada pembeli untuk membawa tas belanja sendiri dan pentingnya melakukan pemilahan sampah kepada beberapa orang pedagang pasar. “Anaknya pandai memanfaatkan peluang atau momen untuk mengembangkan kemampuan dan proyek lingkungannya,” ujar Denok Ribut, guru kelas 6 Hidrogen.

Beberapa kali juga Fifi membagikan tas belanja kepada pengunjung pasar sebagai upaya nyata dari pengembangan proyek lingkungannya. Tidak jarang, dalam setiap aksi sosialisasinya di beberapa tempat, pengunjung justru tertarik dengan adanya aksi bagi-bagi tas belanja gratis.

Tak hanya di lingkungan sekolah, di rumah pun Fifi juga telah menerapkan keluarga hijau, di antaranya lebih memilih produk kemasan besar untuk mengurangi sampah plastik, dan membawa tas belanja sendiri ketika belanja di pusat pembelanjaan. Menurutnya, menularkan pembiasaan ramah lingkungan itu yang paling sederhana adalah mengajak keluarga untuk mengikutinya, kemudian baru tetangga hingga teman-temannya. (ryn)

Keterangan Foto : Sarfina Armalia, salah satu kader lingkungan hidup yang terus berkomitmen selama 6 tahun menjadi tim lingkungan membuat dirinya meraih penghargaan sebagai Eco Student (Elementary) of The Year Surabaya Eco School 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *