Pasca awarding program Surabaya Eco School 2017, SDN Bubutan IV tidak lantas berdiam diri puas hanya dengan pencapaian sekolah terbaik keempat. Beragam kegiatan lingkungan langsung digenjot untuk terus dilakukan dalam pembiasaan mereka. Salah satunya adalah pembiasaan pengolahan sampah organik dengan menggunakan tong komposter dan pengisian lubang resapan biopori. Informasi tersebut diketahui Tunas Hijau saat melakukan pembinaan lingkungan di sekolahnya, Senin (07/01).

Kegiatan pembiasaan mengisi media pengomposan itu didapat melalui kegiatan siswa yang setiap tiga kali seminggu membawa sampah organik dari rumah. Namun bukan pengomposan yang menjadi daya Tarik Anggriyan, aktivis Tunas Hijau saat melakukan pembinaan pasca Surabaya Eco School 2017, adalah adanya kegiatan “Eco Story Telling” atau kegiatan bercerita yang dikemas menarik dengan topik lingkungan yang dilakukan oleh Harris dan Ayis di depan siswa kelas 4 dan 5.

Yohana Permana, guru pembina lingkungan sekolah, mengatakan bercerita melalui media boneka dengan tema lingkungan menjadi salah satu inovasi kegiatan bagi warga sekolah khususnya kader lingkungan agar tidak jenuh. “Kalau biasanya kan mereka saya ajak untuk melakukan rutinitas seperti melakukan pengomposan, penyiraman wall garden di kelas masing-masing. Kali ini, agak berbeda mereka diajak untuk belajar bercerita menggunakan media boneka,” ujar Yohana.

Kader lingkungan SDN Bubutan IV sedang mengecek dan melakukan perawatan terhadap tanaman hidroponik yang baru dibuat sebelum liburan sekolah akhir Desember lalu sebagai program lingkungan terbaru sekolah

Menurut Harris, salah seorang guru perpustakaan mengaku dengan metode penyampaian pesan melalui bonekanya yang bernama Ayis, pesan lingkungan yang ingin disampaikan kepada mereka jauh lebih mudah dan cepat dimengerti. “Hari ini saya dan Ayis bercerita tentang cara budidaya tanaman cincau kepada mereka. Setelah selesai bercerita, mereka kami ajak untuk mempraktekkan cara budidaya tanaman cincau yang jadi isian dari wall garden sekolah,” ucap Harris.

Ayu Puspita Sari, salah seorang siswa kelas 4 mengaku senang dengan kegiatan Eco Story Telling yang disampaikan oleh Harris. Menurutnya, cerita yang disampaikan Ayis lucu tetapi juga secara tidak langsung bisa mengajak anak-anak lain untuk melakukan yang diceritakan. “Rasanya itu seperti diajak bermain tetapi permainannya itu permainan tanam menanam, jadi anak-anak tidak merasa disuruh atau dengan terpaksa kak. Ceritanya juga lucu sampai anak-anak tertawa lepas,” ujar Ayu.

Dirinya bersama teman-temannya berharap bahwa kegiatan Eco Story Telling ini tidak hanya dilakukan pada hari ini saja. Akan tetapi menjadi sebuah agenda kegiatan rutin setiap satu atau dua minggu sekali. Melihat besarnya antusias anak-anak, Yohana bersama Harris berupaya untuk menjadikan Eco Story Telling sebagai bagian dari program lingkungan. “Semoga kedepan bisa berkelanjutan entah setiap satu atau dua minggu sekali dengan cerita dan praktek yang berbeda-beda jadi anak-anak tidak bosen dengernya. Saya juga akan ngajari mereka bermain Eco Story Telling ini,” terang Harris.

Sementara itu, Yohana menunjukkan perkembangan program hidroponik yang sudah dimulai sebelum liburan sekolah akhir Desember lalu. Menurutnya, saat musim liburan, dirinya membuat jadwal piket penyiraman tanaman wall garden di kelas masing-masing sekaligus melakukan pengecekan dan perawatan tanaman hidroponik. “Ya hasilnya hingga 4 minggu berjalan, tanaman sawi dan kangkung kami sudah besar,” tutur Yohana. (ryn)

Keterangan Foto : Kak Harris dan Ayis, karakter boneka yang dibawa sedang menceritakan cara melakukan budidaya tanaman cincau kepada siswa kelas 4 dan 5 dalam kegiatan Eco Story Telling yang menjadi salah satu inovasi kegiatan lingkungan dari SDN Bubutan IV.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *