Eco Mobile PJB tidak sekedar melakukan kunjungan dan pemantuan program lingkungan hidup di sekolah-sekolah, tapi juga melakukan kampanye mengajak peduli lingkungan hidup. Seperti mengajak siswa-siswi SDN Sememi I untuk gemar membaca buku pengetahuan alam dan kader LH SMAN 12 Surabaya untuk lebih menggiatkan kegiatannya, Jumat (5/1).

Kunjungan Eco Mobile PJB di SMAN 12 sangat berarti bagi Dabelscrenata, sebutan kelompok kader LH SMAN 12. Karena menurut Lailatur Rohmah, salah satu pembina LH SMAN 12, menuturkan kalau kondisi kadernya kurang bersemangat karena lomba bertema lingkungan hidup untuk tingkat SMA sangat jarang sekali. “Masalah ini membuat minat dari kader atau calon kader lingkungan hidup jadi menurun. Saya berharap Tunas Hijau lebih sering mengadakan kegiatan lingkungan hidup untuk SMA,” tutur guru yang gemar mengolah semanggi menjadi makanan.

Bersamaan kunjungan itu, Satuman, salah satu operator Eco Mobile PJB dan aktivis Tunas Hijau, mengajak puluhan kader LH untuk lebih aktratif dan kreatif. “Kader LH Dabelscrenata harus mengulang kesuksesan ditahun-tahun sebelumnya. Karena akan ada dampak positif yang dihasilkan untuk banyak orang,” imbuhnya. Misal memperingati hari-hari peringatan lingkungan hidup  yang hampir setiap bulan ada.  Setiap 15 Januari diperingati Hari Peristiwa Laut dan Samudera, 23 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.

Disamping itu, Eco Mobile PJB juga mengunjungi SDN Sememi I. Sekolah yang berlokasi di jalan Kendung No. 122 Surabaya diajak untuk sejenak membaca buku pengetahuan alam di sudut baca Eco Mobile PJB. Selama 1 jam puluhan siswa-siswi  membaca buku bahkan sampai gonta-ganti judul buku. Ratusan buku memanjakan siswa kelas IV, karena mayoritas buku pengetahuan tersebut yang terkemas dalam bentuk komik warna dan bercerita.

Menurut Mamik Sri Utami, pembina Adiwiyata SDN Sememi I, sangat menyayangkan pada minat baca anak-anak jaman now. Perhatian mereka banyak tersita pada gadget yang tidak jauh keluar dari sosial media. “Memang sudah seharusnya membaca buku menjadi budaya khususnya untuk pengetahuan alam, agar banyak generasi penerus kita yang memilki pengetahuan sehingga lebih mudah untuk diajak lebih peduli terhadap lingkungan hidup,” terang Mamik. (One)

Keterangan foto utama:

TANYA JAWAB : Kader lingkungan hidup SMAN 12 Surabaya atau Dabelscrenata melakukan tanya jawab dengan Satuman, aktivis Tunas Hijau,, mengenai susah senangnya menjadi aktivis atau sekedar kader lingkungan waktu masih sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *