Sejak Agustus 2014, kepala sekolah pindahan dari SMPN 42 ini dikenal sebagai sosok yang visioner dan disiplin. Kepala sekolah baru itu bernama Budi Hartono, dengan gaya khas “Kebapakan” nya, prestasi yang berbukti menjadi bentuk pengabdian kepada sekolah sekaligus bukti pencapaian diri sebagai seorang motor penggerak roda Pendidikan sekolah yang terletak di pusat kota dekat dengan jalan raya penghasil polusi udara.

Selama tiga tahun berada di sekolah yang sebagian bangunannya menjadi cagar budaya, pembangunan berkelanjutan dan program lingkungan berkelanjutan menjadi andalan yang diterapkan agar tetap melestarikan bangunan budaya tersebut. “Pencapaian sekolah setelah kedatangan saya adalah memiliki vertikal garden, green house atau tempat pembibitan tanaman, hutan sekolah dan yang sedang dalam pengerjaan adalah school farming,” ujar Budi.

School farming yang merupakan agenda awal tahun 2017, sebelumnya sudah dimulai di area dekat kamar mandi dan hutan sekolah. Diakhir tahun ini, School Farming akan dikembangkan dengan memanfaatkan lahan kosong diatas ruang TU berukuran 20 x 6 meter. Keterbatasan lahan bukan menjadi penghalangnya dalam memberikan teladan peduli lingkungan bagi warga sekolah. Media tanam mengadopsi sistem hidroponik ini nantinya akan ditanami sayur mayur, salah satunya sawi dan selada.

“Kalau yang kemarin di bawah, kali ini saya meminta warga sekolah untuk memanfaatkan lahan terbatas di sekolah yakni di bagian atap ruangan TU yang berukuran 20 x 6 meter. Dengan metode ini, kami ingin menciptakan ketahanan pangan di sekolah melalui peran warga sekolah tentunya saat perawatan tanamannya,” jelas kepala sekolah yang pernah melakukan pembelajaran pendidikan sampai di Jepang dan Singapura ini.

Dengan modal perencanaan school farming ini, misi utama yang dilakukan Budi adalah mengajak warga sekolah untuk suka makan sayuran. “Selain untuk memberikan modal mereka berupa soft skill dan life skill di bidang lingkungan, tujuan utamanya yakni mengajak anak-anak untuk gemar makan sayur. Apalagi sayurannya ini sayur organik, tidak ada campuran bahan kimia di dalamnya,” terang kepala sekolah berbadan gemuk. Kreasi es krim berbahan baku sawipun menjadi hasil dari rencana pengembangannya di bidang entrepreneur.

Es krim yang hadir dengan beragam varian rasa mulai alpukat, apel dan berbagai rasa lain kini perlahan mulai diminati oleh warga sekolah. Nanik Irawati, guru pembina lingkungan mengatakan dirinya benar-benar kagum dan menghargai sepak terjang kepala sekolahnya. “Baru tiga tahun di sekolah ini, beliau sudah membuat banyak perubahan. Saya suka karakter pemimpin yang memberikan teladan langsung bukan hanya pandai dalam mengolah kata,” ucap Nanik.

Menariknya, dari pengakuan kepala sekolah yang berdomisili di Jalan Pogot I Surabaya ini bahwa setiap bulannya sekolah hanya mengeluarkan uang sebesar 38.000 rupiah untuk membayar tagihan air PDAM. Menurutnya, hal itu berkaitan dengan strategis pengembangan program lingkungan di sekolah. “Silahkan bisa dicek di rumah saya, di sekolah-sekolah yang lain kalau tagihan air di sekolah saya menjadi tagihan paling sedikit,” ujar Budi Hartono.

Kemampuan manajerial Sumber Daya Manusia dimanfaatkan oleh kepala sekolah yang sudah tiga tahun menjabat untuk mengelola program lingkungan dengan dua fokus yakni manajerial air dan energi. “Dengan mengelola secara benar kebutuhan air dan energi di sekolah, melalui program pahlawan energi, hemat air, hemat listrik, memanfaatkan air AC, air wudhu di tampu lalu digunakan lagi itu menjadi kuncinya. Permasalahan lingkungan lain seperti sampah dan penghijauan akan terskema dengan sendirinya,” imbuhnya. (ryn)

Keterangan Foto : Budi Hartono, kepala SMPN 3 yang langsung terjun mendampingi siswa menyiapkan mading lingkungan untuk warga sekolah yang berisi informasi mengenai kebijakan terbaru membawa tempat makan dan botol minum sendiri dari rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *