Gerakan pengurangan volume sampah yang dihasilkan oleh warga sekolah dilakukan secara perlahan oleh SDN Klampis Ngasem II. Beragam aksi dan gerakan yang bertujuan untuk mengurangi volume sampah plastik dan kertas digalakkan setiap harinya. Salah satunya adalah gerakan pemilahan sampah khusus kertas. Pemilahan sampah khusus kertas ini dilakukan di kelas-kelas dengan bermodalkan tempat sampah terpisah yang memanfaatkan  kardus bekas sebagai medianya.

Informasi tersebut disampaikan oleh Dyah Istanti, guru pembina lingkungan sekolah yang berlokasi di Jalan Klampis Anom XI No. 1 kepada Tunas Hijau saat menggelar monitoring dan pembinaan program lingkungan hidup Surabaya Eco School 2017, Kamis (26/10). “Setiap harinya, anak-anak melakukan pemilahan sampah di kelas-kelasnya masing dengan kardus bekas ini sebagai wadahnya. Setiap satu minggu sekali, sampah kertas yang sudah terkumpul di kelas-kelas di jual ke pengepul,” ujar Dyah.

Gerakan lainnya adalah ajakan untuk membawa tempat makan dan botol minum sendiri setiap hari untuk mengurangi volume sampah plastik kemasan sekali pakai di sekolah. Guru pembina yang juga pengajar kelas 5 mengatakan saat ini, tim lingkungan hidup masih dalam tahapan sosialisasi mengajak seluruh warga sekolah untuk membawa tempat makan dan botol minum sendiri. “Saya tidak sendirian, guru walikelasnya saya libatkan untuk mengajak anak-anaknya merealisasikan gerakan itu,” imbuhnya.

Edukasi yang disampaikan kepada warga sekolah tentang gerakan pengurangan sampah plastik kemasan adalah bahaya yang ditimbulkan dari penggunaan plastik tersebut. Nur Jannah, guru pembina lingkungan lainnya menyampaikan kandungan kimia yang terkandung pada kemasan plastik sekali pakai berbahaya apabila terkena panas matahari kemudian memuai tercampur pada makanan yang dibawa anak-anak. “Jadi setiap kami sosialisasi ke anak-anak untuk mengajak mereka merealisasikan gerakan itu, saya sampaikan bahayanya kemasan plastik sekali pakai terhadap makanan,” ujar Nur Jannah.

Upaya realisasi gerakan pengurangan volume sampah tersebut mendapat apresiasi dari Mistin, kepala sekolah baru. Mantan kepala SDN Kutisari III ini mengatakan dirinya suka sekali dengan sekolah yang sudah banyak penghijauannya. Dirinya mendukung gerakan yang dilakukan oleh tim lingkungan hidup sekolahnya. “Ya saya senang sekali kalau lingkungan di sekolah itu bersih, hijau dan asri. Itu membuat anak-anak jadi betah untuk belajar terutama di dalam kelas,” ujar Mistin.

Upaya sekolah dalam mengolah sampah yang dihasilkan terkendala pada ketersediaannya alat atau fasilitas lingkungan pendukung. Salah satunya seperti upaya mereka melakukan pengomposan sampah daun. “Anak-anak setiap harinya mengumpulkan sampah daun sepulang sekolah dibantu oleh penjaga sekolah. Namun, kami mengumpulkan saja di trashbag hitam besar karena tidak punya alat pengomposan seperti tong komposter. Jadinya ya kami tidak tahu apakah upaya yang kami lakukan ini akan berhasil menjadi kompos,” terang Nur Jannah. (ryn)

Keterangan Foto : SDN Klampis Ngasem II realisasikan gerakan pengurangan volume sampah di sekolah dnegan cara melakukan pemilahan sampah khusus kertas di kelas-kelas,, membawa botol dan tempat makan sendiri serta melakukan pengoposan sampah daun saat pembinaan SES 2017 .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *