Sekolah satu atap atau satu lokasi dengan SMPN 52 membawa dampak tersendiri bagi SDN Medokan Semampir I dalam permasalahan lingkungan. Salah satunya adalah produksi sampah yang dihasilkan oleh warga sekolah meingkat. Infomasi itu disampaikan oleh Lilik Ernawati, guru pembina lingkungan kepada Tunas Hijau saat melakukan monitoring sekaligus pembinaan program Surabaya Eco School 2017, Selasa (24/10).

Sampah yang dihasilkan oleh sekolah setiap harinya mencapai 8 – 12 tong sampah, jumlah itu sudah termasuk sampah yang dihasilkan oleh siswa SMPN 52 yang dibuang di tempat sampah mereka. “Petugas kebersihan kami, setiap harinya membersihkan sampah yang ada di area sekolah. Karena lokasinya yang sama, kami tidak bisa memonitoring siswa sebelah saat membuang sampahnya. Tapi, setiap sepulang sekolah volume sampah kami yang dibuang penjaga sekolah pasti nambah,” ucapnya.

Disinggung mengenai realisasi program lingkungan yang dilakukan pasca workshop awal, guru kelas 4 ini mengatakan dirinya masih belum membentuk tim lingkungan hidup, tetapi sudah menggerakkan siswa di kelasnya untuk melakukan aksi penghijauan. “Saya memang belum membentuk tim secara keseluruhan kak dari perwakilan siswa dan guru. Tetapi, saya sudah ajak anak-anak di kelas untuk menanam tanaman TOGA di depan kelas,” kata Lilik.

Selain taman TOGA di kelas, sekolah yang terletak di Semampir gang Sekolahan ini memanfaatkan lahan kosong di belakang untuk dimanfaatkan menjadi kebun sayuran. Menurut Lilik, lahan kosong yang sudah dipersiapkan akan dimanfaatkan untuk ditanami tanaman sayur seperti sawi, kangkung dan cabai. “Saat ini masih disiapkan lahannya, minggu depan saya ajak anak-anak untuk menyemai biji tanaman sayurnya ke dalam media pembibitan,” terang Lilik.

Rado Bakti Saputra, salah seorang siswa kelas 4 mengatakan saat di sekolah, dirinya tidak hanya melakukan kegiatan penghijauan dengan menanam tanaman TOGA saja, setiap satu minggu sekali, dirinya dan teman-teman lainnya menggelar aksi Jumat Bersih. “Setiap Jumat pagi, anak-anak dihimbau sekolah untuk membersihkan kelasnya masing-masing. Seperti layaknya kegiatan serbu sampah, dimana ada sampah, warga sekolah harus mengambilnya dan langsung membuangnya ke tempat sampah,” ujar Rado kepada Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau.

Melihat permasalahan lingkungan yang ada di sekolah, Anggriyan menyarankan kepada sekolah agar segera memulai gerakan pemilahan sampah. Bisa dimulai dengan melakukan pemilahan sampah khusus kertas di setiap kelasnya. “Jadi secara sederhana, ibu tinggal sediakan saja tempat sampah khusus kertas di tiap-tiap kelas. Seperti kardus misalkan, nah nantinya anak-anak diberi tanggung jawab untuk memilah sampah kertas setiap jam pulang sekolah. Sampah kertas itu kemudian dikumpulkan untuk dijual, hasilnya bisa dipakai untuk beli perlengkapan kelas,” ungkap Anggriyan. (ryn)

Keterangan Foto : Kader lingkungan SDN Medokan Semampir I membawa tanaman TOGA yang jadi fokus utama program lingkungan sekolah dalam program Surabaya Eco School 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *