Luas lahan yang dimiliki oleh SDN Nginden Jangkungan I saat ini begitu luas, pasalnya sekolah yang bersebelahan dengan SDN Nginden Jangkungan II kini sudah menjadi satu sekolah alias merger. Terhitung sejak awal September lalu sejak ditetapkan sekolah merger, praktis guru pembina lingkungan hidup merasa kesulitan dalam menjalankan kegiatan lingkungan. Kendalanya adalah masa penyesuaian guru-guru dan seluruh stakeholders agar bisa menjalankan kembali program lingkungan hidup di sekolah masih tersendat.

Informasi tersebut disampaikan oleh Sutrisno, salah seorang guru pembina lingkungan kepada aktivis Tunas Hijau, Anggriyan Permana saat menggelar monitoring dan pembinaan program Surabaya Eco School 2017, Selasa (24/10). Pengajar yang sekaligus walikelas 4 ini mengatakan sejak mengikuti workshop awal program yang diselenggarakan bersama Pemerintah Kota Surabaya ini, sampah menjadi focus utama gerakan lingkungan mereka.

“Sampai sekarang kami hanya bisa menjalankan kegiatan pemilahan dan pengumpulan sampah kertas setiap hari. Lalu, setiap Jumat, sampah kertas yang sudah dikumpulkan setiap kelasnya dibawa ke bank sampah untuk ditimbang lalu dijual kepada pengepul,” ujar Sutrisno. Uang hasil penjualan sampah kertas digunakan untuk membeli perlengkapan kelas masing-masing. Sampah plastik kemasan masih menjadi momok bagi sekolah yang terletak di Jalan Nginden Baru VI No.32 untuk diatasi.

Gerakan pengurangan sampah plastik kemasan pun getol dilakukan sekolah dengan mengajak warga sekolahnya membawa tempat makan dan botol minum sendiri. Disampaikan oleh Sutrisno, siswa di setiap kelas diharuskan membawa tempat makan dan botol sendiri, walikelas di setiap kelas mempunyai ceklist siswa yang bawa dan tidak bawa. “Bagi siswa yang tidak membawa tempat makan dan botol minum sendiri akan dikenakan sanksi untuk memberishkan ruangan kelas pulang sekolahnya,” ujar Sutrisno kepada Tunas Hijau.

Sayangnya, tiga buah keranjang komposter yang sebelumnya milik SDN Nginden Jangkungan II masih belum digunakan. Alasannya, karena mereka masih belum mengetahui kalau ada, terlebih dikarenakan guru pembina yang baru masih dalam penyesuaian kondisi lingkungan. “Ya saya masih belum tahu mas kalau di sekolah lama punya keranjang komposter. Secepatnya saya akan belajar kepada guru pembina lingkungan sebelumnya tentang cara pengoperasionalan keranjang ini. Setelah itu baru saya bisa ajak anak-anak untuk menggunakannya kembali,” pungkas Sutrisno.

Tunas Hijau menyarankan dalam pembinaan tersebut untuk mulai menjalankan pengomposan dengan keranjang komposter. “Mengingat sekolah bapak sudah tertinggal tantangan mingguan beberapa pekan, jadi ya sebisa mungkin segera difungsikan. Caranya mudah kok pak, meniru perilaku kucing yang sedang buang air besar. Gali, taruh sampah organiknya, lalu tutup kembali. Kalau nanti alat-alat untuk memulainya sudah lengkap seperti bantalan sekam, starter dan kain, silahkan kami bisa dihubungi untuk memberikan edukasi pengomposan ke anak-anak,” saran Anggriyan. (ryn)

Keterangan Foto : Kader Lingkungan SDN Nginden Jangkungan I menunjukkan tempat makan dan botol minum sendiri sebagai gerakan pengurangan sampah pada program Surabaya Eco School 2017 di sekolahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *